Persoalannya, ketika seseorang begitu mendambakan belahan jiwa tetapi menikahi orang yang berbeda, maka secara otomatis ini juga berpengaruh terhadap kehidupan seksnya.
Sebuah penelitian mengungkap, mereka yang percaya hal seperti ini cenderung tidak bahagia dengan pernikahannya dan kehidupan ranjangnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lain halnya mereka yang lebih percaya pada 'sexual growth'. Apa itu? Ini adalah konsep yang diberikan peneliti untuk menyebut kepuasan seksual yang didapat pasangan suami istri karena upaya yang dilakukan kedua belah pihak.
"Karena mereka yang percaya soulmate merasa chemistry itu akan datang dengan sendirinya, sehingga mereka malas atau enggan melakukan sesuatu agar bisa mendapatkan kepuasan seksual," ungkap peneliti dalam laporannya.
Sedangkan mereka yang mau meluangkan waktu dan usahanya untuk mencapai kepuasan bersama pada akhirnya merasakan koneksi yang lebih kuat di antara dirinya dan sang pasangan. Bahkan kepuasan yang dirasakan tidak semata di ranjang saja, tetapi pada hubungan secara keseluruhan.
Baca juga: Perbedaan Usia Bisa Sebabkan Kurang 'Rasa' dalam Bercinta?
Peneliti mendasarkan temuannya ini dari hasil pengamatan terhadap lebih dari 1.900 orang. Secara garis besar, mayoritas pasangan mengalami 'fase bulan madu' dalam sebuah hubungan di dua-tiga tahun pertama. Saat itu kepuasan seksual responden sedang tinggi-tingginya.
Setelah melewati masa dua-tiga tahun, barulah terlihat perbedaannya. "Kehidupan seksual itu ibarat taman, yang butuh disirami dan dirawat agar tetap indah," tambah Jessica seperti dilaporkan Psychology Today.
Dalam riset lain dikatakan, untuk mendapatkan kehidupan seks yang memuaskan, aktivitas seksualnya pun tak perlu dilakukan saban hari.
Studi yang dipublikasikan dalam Association for Psychological Science ini mengungkapkan, ini karena kepuasan pasangan dengan aktivitas seks mereka bisa bertahan hingga beberapa lama, tepatnya selama 48 jam.
Temuan ini dirasa penting mengingat pasangan yang sudah menikah selama beberapa tahun biasanya mulai menghadapi kejenuhan. Yang penting mau meluangkan waktu untuk bercinta setidaknya 1-2 kali sepekan, frekuensi ini dianggap sudah cukup untuk menjaga keharmonisan hubungan.
Baca juga: 'Baper' Setelah Bercinta Juga Terjadi pada Laki-laki (lll/vit)











































