6 Hal Soal Bercinta Saat Hamil yang Sering Ditanyakan

6 Hal Soal Bercinta Saat Hamil yang Sering Ditanyakan

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Kamis, 25 Mei 2017 15:07 WIB
6 Hal Soal Bercinta Saat Hamil yang Sering Ditanyakan
Foto: thinkstock
Jakarta - Hal-hal seputar bercinta kerap ditanyakan ibu hamil. Terlebih, bercinta saat hamil bisa jadi salah satu aktivitas yang memicu kekhawatiran.

Nah, dirangkum detikHealth, berikut ini pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan ibu hamil dan jawaban di baliknya. Apa saja?

Baca juga: Sperma Keluar dari Miss V Usai Bercinta Bukan Berarti Tak Terjadi Pembuahan

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


1. Kapan boleh bercinta dan tidak?

Foto: Thinkstock
dr Gde Suardana SpOG dari RSAB Harapan Kita, memang melakukan hubungan suami istri saat hamil muda tidak boleh dilakukan jika kondisi ibu dan janin tidak baik. Misalnya saja ada keluhan seperti nyeri, flek, atau ancaman kehamilan lainnya.

"Sebaiknya tidak melakukan aktivitas tersebut, dan justru dianjurkan lebih banyak beristirahat," kata dr Gde.

Jika memang ibu merasa tidak ada keluhan dan setuju untuk melakukan hubungan intim, menurut dr Gde tidak ada saran khusus. Yang terpenting harus dipastikan bahwa ibu dan janin berada dalam kondisi yang baik. Apalagi, saat hamil muda pun perut ibu hamil juga belum terlalu besar.

2. Apa posisi yang disarankan?

Foto: Thinkstock
dr Hari Nugroho SpOG dari RSUD Dr Soetomo Surabaya mengatakan ketika ibu hamil bercinta lantas merasa tidak nyaman, disarankan untuk mengganti posisi berhubungan seks yang digunakan dan dicari yang paling nyaman.

"Kalau dirasa tidak ada yang nyaman ya sebaiknya tidak berhubungan intim dulu. Disarankan memang posisi bercintanya yaitu posisi perempuan yang pasif yaitu di bawah meski terkadang ada juga wanita yang lebih suka berada di posisi atas supaya kedalaman penetrasi bisa diatur, itu juga bisa dicoba," kata dr Hari.

3. Apakah penetrasi penis akan 'menyodok' janin?

Foto: thinkstock
Terkait pemikiran jika penetrasi ketika berhubungan intim maka penis akan 'menyodok' janin, menurut dr Hari pemikiran tersebut dinilai cukup masuk akal. Walaupun kenyataannya penis hanya bisa menyentuh ke leher rahim. Lagipula, bayi berada di dalam rahim dan terlindungi cairan ketuban.

"Jadi nggak mungkin kalau penisnya sampai menyodok si janin. Lagipula panjang penis tiap pria kan berbeda, begitu juga kedalaman vagina pada wanita berbeda. Kalau dirasa perut terasa tidak nyaman ketika bercinta, pada beberapa ibu hamil memang bisa seperti itu kemungkinan karena rahim kan agak turun akibat gravitasi," tutur dr Hari.

4. Bagaimana jika ada riwayat keguguran?

Foto: ilustrasi/thinkstock
Pengamat kesehatan seksual dr Andri Wanananda MS mengatakan sebaiknya pada kehamilan trimester pertama atau pada bulan ke 3 hingga ke 4 kehamilan tidak melakukanaktivitas seksual yang dapat memicu orgasme. Terutama pada wanita yang telah berkali-kali keguguran sebelumnya.

"Ketika wanita mencapai orgasme, terjadi gerakan-gerakan rahim yang seolah mencengkeram. Hal itu harus sangat diperhatikan sang calon Ibu karena gerakan-gerakan tersebut dapat menyebabkan keguguran," ucap anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) ini.

Ia menambahkan, aktivitas seksual lain yang dapat menimbulkan orgasme juga patut dihindari seperti masturbasi.

Sementara wanita yang belum pernah mengalami keguguran, dr Andri berpendapat, "Hubungan intim yang dilakukan setelah trimester pertama atau hamil tua sekalipun relatif aman."

Namun, ia mengimbau agar perut sang calon ibu yang tengah mengandung tidak boleh terbebani. Ia menyebutkan ada laporan ilmiah terjadinya kontraksi saat orgasme sehingga hal itu berkontribusi memperlancar persalinan normal kelak.

5. Normalkah jika saat hamil tua gairah seks meningkat?

Foto: ilustrasi/thinkstock
Wanita yang sedang hamil tua biasanya relatif memiliki gairah seksual yang lebih tinggi dikarenakan hormon reproduktifnya yang meningkat. Bila ada calon ibu yang lebih menilai melakukan masturbasi saat hamil tua lebih aman daripada bercinta, dr Andri mengingatkan untuk melakukannya dengan suasana tenang dan higienis seperti mencuci jari tangan dan organ Miss V pada sebelum dan setelah masturbasi.

dr Andri menyarankan agar posisi bercinta diganti menjadi posisi rear entry atau biasa disebut doggie position, yaitu pria di belakang bokong istri, dan posisi saling menyamping atau side by side position dianggap sebagai posisi paling aman.

6. Amankah jika ejakulasi di dalam vagina?

Foto: Thinkstock
dokter spesialis kebidanan dan kandungan dari Divisi Fetomaternal RSU Dr Soetomo Surabaya, dr Khanisyah Erza Gumilar, SpOG, mengatakan suami tidak disarankan melakukan ejakulasi di dalam ketika bercinta saat istri hamil.

"Secara teori memang begitu. Karena sperma itu ada prostaglandin yang merupakan stimulator untuk terjadinya kontraksi rahim," kata dr Erza.

Sehingga bagi pasangan suami istri yang ingin melakukan hubungan seks ketika hamil, yang harus diperhatikan adalah dilakukan secara perlahan-lahan, penuh tanggung jawab dan sesuai kondisi ibu hamil. Ia memberi contoh ketika ibu hamil memiliki riwayat penyakit jantung maka sebaiknya tidak melakukan hubungan seks yang cukup sering.

"Kasihan kan istrinya kalau sudah sakit terus capek diminta sering berhubungan seks. Tapi kembali lagi ke setiap pasangan, kalau masih bisa nggak apa-apa," kata dr Erza.
Halaman 2 dari 7
dr Gde Suardana SpOG dari RSAB Harapan Kita, memang melakukan hubungan suami istri saat hamil muda tidak boleh dilakukan jika kondisi ibu dan janin tidak baik. Misalnya saja ada keluhan seperti nyeri, flek, atau ancaman kehamilan lainnya.

"Sebaiknya tidak melakukan aktivitas tersebut, dan justru dianjurkan lebih banyak beristirahat," kata dr Gde.

Jika memang ibu merasa tidak ada keluhan dan setuju untuk melakukan hubungan intim, menurut dr Gde tidak ada saran khusus. Yang terpenting harus dipastikan bahwa ibu dan janin berada dalam kondisi yang baik. Apalagi, saat hamil muda pun perut ibu hamil juga belum terlalu besar.

dr Hari Nugroho SpOG dari RSUD Dr Soetomo Surabaya mengatakan ketika ibu hamil bercinta lantas merasa tidak nyaman, disarankan untuk mengganti posisi berhubungan seks yang digunakan dan dicari yang paling nyaman.

"Kalau dirasa tidak ada yang nyaman ya sebaiknya tidak berhubungan intim dulu. Disarankan memang posisi bercintanya yaitu posisi perempuan yang pasif yaitu di bawah meski terkadang ada juga wanita yang lebih suka berada di posisi atas supaya kedalaman penetrasi bisa diatur, itu juga bisa dicoba," kata dr Hari.

Terkait pemikiran jika penetrasi ketika berhubungan intim maka penis akan 'menyodok' janin, menurut dr Hari pemikiran tersebut dinilai cukup masuk akal. Walaupun kenyataannya penis hanya bisa menyentuh ke leher rahim. Lagipula, bayi berada di dalam rahim dan terlindungi cairan ketuban.

"Jadi nggak mungkin kalau penisnya sampai menyodok si janin. Lagipula panjang penis tiap pria kan berbeda, begitu juga kedalaman vagina pada wanita berbeda. Kalau dirasa perut terasa tidak nyaman ketika bercinta, pada beberapa ibu hamil memang bisa seperti itu kemungkinan karena rahim kan agak turun akibat gravitasi," tutur dr Hari.

Pengamat kesehatan seksual dr Andri Wanananda MS mengatakan sebaiknya pada kehamilan trimester pertama atau pada bulan ke 3 hingga ke 4 kehamilan tidak melakukanaktivitas seksual yang dapat memicu orgasme. Terutama pada wanita yang telah berkali-kali keguguran sebelumnya.

"Ketika wanita mencapai orgasme, terjadi gerakan-gerakan rahim yang seolah mencengkeram. Hal itu harus sangat diperhatikan sang calon Ibu karena gerakan-gerakan tersebut dapat menyebabkan keguguran," ucap anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) ini.

Ia menambahkan, aktivitas seksual lain yang dapat menimbulkan orgasme juga patut dihindari seperti masturbasi.

Sementara wanita yang belum pernah mengalami keguguran, dr Andri berpendapat, "Hubungan intim yang dilakukan setelah trimester pertama atau hamil tua sekalipun relatif aman."

Namun, ia mengimbau agar perut sang calon ibu yang tengah mengandung tidak boleh terbebani. Ia menyebutkan ada laporan ilmiah terjadinya kontraksi saat orgasme sehingga hal itu berkontribusi memperlancar persalinan normal kelak.

Wanita yang sedang hamil tua biasanya relatif memiliki gairah seksual yang lebih tinggi dikarenakan hormon reproduktifnya yang meningkat. Bila ada calon ibu yang lebih menilai melakukan masturbasi saat hamil tua lebih aman daripada bercinta, dr Andri mengingatkan untuk melakukannya dengan suasana tenang dan higienis seperti mencuci jari tangan dan organ Miss V pada sebelum dan setelah masturbasi.

dr Andri menyarankan agar posisi bercinta diganti menjadi posisi rear entry atau biasa disebut doggie position, yaitu pria di belakang bokong istri, dan posisi saling menyamping atau side by side position dianggap sebagai posisi paling aman.

dokter spesialis kebidanan dan kandungan dari Divisi Fetomaternal RSU Dr Soetomo Surabaya, dr Khanisyah Erza Gumilar, SpOG, mengatakan suami tidak disarankan melakukan ejakulasi di dalam ketika bercinta saat istri hamil.

"Secara teori memang begitu. Karena sperma itu ada prostaglandin yang merupakan stimulator untuk terjadinya kontraksi rahim," kata dr Erza.

Sehingga bagi pasangan suami istri yang ingin melakukan hubungan seks ketika hamil, yang harus diperhatikan adalah dilakukan secara perlahan-lahan, penuh tanggung jawab dan sesuai kondisi ibu hamil. Ia memberi contoh ketika ibu hamil memiliki riwayat penyakit jantung maka sebaiknya tidak melakukan hubungan seks yang cukup sering.

"Kasihan kan istrinya kalau sudah sakit terus capek diminta sering berhubungan seks. Tapi kembali lagi ke setiap pasangan, kalau masih bisa nggak apa-apa," kata dr Erza.

(rdn/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads