Fakta-fakta Kecanduan Seks, Kondisi yang Dialami Scott Disick

Fakta-fakta Kecanduan Seks, Kondisi yang Dialami Scott Disick

Nurvita Indarini - detikHealth
Jumat, 02 Jun 2017 08:45 WIB
Fakta-fakta Kecanduan Seks, Kondisi yang Dialami Scott Disick
Pasangan Kourtney Kardashian, Scott Disick, mengaku kecanduan seks. (Foto: Getty Images)
Jakarta - Mantan pasangan Kourtney Kardashians, Scott Disick, pernah mengakui bahwa dirinya adalah seorang pecandu seks. Sebegitu mencandukah seks itu?

Bukan cuma Disick, pesohor yang mengakui dirinya pecandu seks. Sebelumnya, komedian Russell Brand, model sekaligus artis Amber Smith, serta rapper Kanye West juga pernah mengakui hal yang sama. Demikian dikutip dari Daily Mail.

Berikut ini fakta-fakta tentang kecanduan seks yang telah dirangkum detikHealth:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Kecanduan Seks Adalah Penyakit Saraf

1. Dialami 1 dari 25 Kalangan Milenial

Foto: thinkstock
Dalam studinya baru-baru ini, University of Cambridge menemukan satu dari 25 orang kalangan milenial kecanduan seks. Angka ini diyakini meningkat lantaran maraknya konten-konten porno di internet.

Seseorang dikatakan kecanduan seks adalah bila kesulitan mengontrol pikirannya, perasaannya, maupun perilakunya terkait seks. Akibatnya bisa mempengaruhi kesehatan, pekerjaan, hubungan atau bagian lain dari kehidupan.

Perilaku seksual kompulsif dapat terdiri dari tindakan seksual yang umumnya ekstrem. Perilaku ini bermasalah ketika menjadi obsesi yang mengganggu atau berbahaya bagi diri sendiri atau orang lain.

Namun Dr Tom Murray yang merupakan terapis seks mengatakan belum ada dukungan empiris untuk mengklasifikasikan apakah seseorang kecanduan seks atau tidak. Dia mencontohkan ketika seseorang mencuci tangan seribu kali dalam sehari, bukan berarti yang bersangkutan lantas disebut kecanduan cuci tangan.

Murray meyakini tidak ada yang namanya berhubungan seks'terlalu banyak' bagi orang dewasa yang bisa menjalani hidup mereka secara normal.

2. Sudah Berlangsung 6 Bulan atau Lebih

Foto: thinkstock
Suatu ketika, seseorang bisa saja memiliki hasrat seksual yang tinggi, sehingga dalam sehari bisa berkali-kali melakukan kegiatan seksual, baik itu masturbasi ataupun melakukan hubungan intim dengan lawan jenis. Namun ini tidak serta-merta membuat yang bersangkutan dikatakan sebagai pecandu seks.

Hingga tahun 2012, peneliti dan ilmuwan berjuang untuk menentukan apa saja gejala kecanduan seks. Sementara itu University of California Los Angeles (UCLA) mendefinisikan kecanduan seks atau gangguan hiperseksual sebagai fantasi dan perilaku seksual berulang yang berlangsung paling tidak enam bulan.

Harus ditekankan di sini bahwa yang bersangkutan tidak sedang berada di bawah pengaruh obat-obatan terlarang dan alkohol, serta tidak mengalami gangguan mental lainnya.

3. Bisa Menghancurkan Karir dan Kehidupan

Foto: thinkstock
Tampaknya menyenangkan bisa memuaskan hasrat seks dengan leluasa, baik sendirian atau bersama lawan jenis. Namun dampaknya tidak semenyenangkan itu. Gara-gara kecanduan seks, karir dan kehidupan bisa hancur.

Hal ini misalnya dialami oleh Sami Walton. Di awal usia 20-an tahun, Sami sering kali pergi ke mana pun hanya demi bisa bertemu dengan seseorang yang bisa memuaskan hasrat biologisnya. Untuk keperluan ini, dia harus sering izin tidak masuk kerja. Mulanya sang bos maklum, namun lama-lama Sami dipecat.

Seorang pecandu seks tahu benar tindakannya bisa berbahaya, namun dia tidak peduli akan konsekuensinya. Dia bahkan berani mempertaruhkan kehidupannya sendiri dan kehidupan orang lain dalam bahaya, demi keberlangsungan perilaku seksualnya yang berlebihan itu.

Merasa hidup dan karirnya sudah benar-benar terganggu, Sami pun bergabung dengan support group 'Sex Addicts Anonymous'. Dia juga bertemu dengan pria yang sangat membantu dalam proses terapi untuk sembuh dari kecanduan ini.

"Kecanduan seks adalah masalah yang serius. Kebanyakan pria berpikir itu keuntungan memiliki pasangan yang senang dengan seks. Tapi bagi orang yang mengalaminya, itu amat menyiksa," kata Sami.

4. Perilaku yang Berkaitan dengan Kecanduan Seks

Foto: thinkstock
Beberapa perilaku yang terkait dengan kecanduan seks antara lain:

1. Masturbasi kompulsif atau berulang-ulang
2. Mengalami banyak affair di luar nikah
3. Memiliki banyak mitra seksual
4. Konsisten menggunakan pornografi
5. Melakukan seks tidak aman
6. Sering melakukan hubungan seks lewat telepon atau situs porno
7. Sering menggunakan jasa prostitusi
8. Kecondongan memperlihatkan kecakapannya dalam berhubungan seks
9. Mengalami voyeurisme (kelainan seks yang mana seseorang menemukan kenikmatan seksual dengan menyaksikan atau mengintip orang yang telanjang, membuka baju, atau melakukan seks).
10. Sering melakukan pelecehan seksual

5. Bisa Mengakibatkan Perubahan Jalur Otak

Foto: Thinkstock
Perilaku seksual kompulsif ditengarai lama-kelamaan dapat menyebabkan perubahan dalam sirkuit saraf otak, yaitu jaringan saraf yang memungkinkan sel-sel otak berkomunikasi satu sama lain. Perubahan ini dapat menyebabkan reaksi menyenangkan dengan terlibat dalam perilaku seksual dan reaksi tidak menyenangkan ketika perilaku dihentikan.

Terapis seks, Paula Hall, mengatakan untuk mengatasi kecanduan seks, maka yang bersangkutan mesti memahami apa penyebab kecanduannya. Seringkali, kondisi itu berkaitan dengan pengalaman masa lalu yang mengakar di pikirannya.

Namun kecanduan seks bisa juga terkait dengan masalah biologis. Untuk itu, selain konseling dengan terapis seks, yang bersangkutan juga bisa diberi obat-obatan medis oleh dokter yang bersinergi dengan si terapis.

Baca juga: 4 'Biang Keladi' yang Bikin Orang Jadi Pecandu Seks

Halaman 2 dari 6
Dalam studinya baru-baru ini, University of Cambridge menemukan satu dari 25 orang kalangan milenial kecanduan seks. Angka ini diyakini meningkat lantaran maraknya konten-konten porno di internet.

Seseorang dikatakan kecanduan seks adalah bila kesulitan mengontrol pikirannya, perasaannya, maupun perilakunya terkait seks. Akibatnya bisa mempengaruhi kesehatan, pekerjaan, hubungan atau bagian lain dari kehidupan.

Perilaku seksual kompulsif dapat terdiri dari tindakan seksual yang umumnya ekstrem. Perilaku ini bermasalah ketika menjadi obsesi yang mengganggu atau berbahaya bagi diri sendiri atau orang lain.

Namun Dr Tom Murray yang merupakan terapis seks mengatakan belum ada dukungan empiris untuk mengklasifikasikan apakah seseorang kecanduan seks atau tidak. Dia mencontohkan ketika seseorang mencuci tangan seribu kali dalam sehari, bukan berarti yang bersangkutan lantas disebut kecanduan cuci tangan.

Murray meyakini tidak ada yang namanya berhubungan seks'terlalu banyak' bagi orang dewasa yang bisa menjalani hidup mereka secara normal.

Suatu ketika, seseorang bisa saja memiliki hasrat seksual yang tinggi, sehingga dalam sehari bisa berkali-kali melakukan kegiatan seksual, baik itu masturbasi ataupun melakukan hubungan intim dengan lawan jenis. Namun ini tidak serta-merta membuat yang bersangkutan dikatakan sebagai pecandu seks.

Hingga tahun 2012, peneliti dan ilmuwan berjuang untuk menentukan apa saja gejala kecanduan seks. Sementara itu University of California Los Angeles (UCLA) mendefinisikan kecanduan seks atau gangguan hiperseksual sebagai fantasi dan perilaku seksual berulang yang berlangsung paling tidak enam bulan.

Harus ditekankan di sini bahwa yang bersangkutan tidak sedang berada di bawah pengaruh obat-obatan terlarang dan alkohol, serta tidak mengalami gangguan mental lainnya.

Tampaknya menyenangkan bisa memuaskan hasrat seks dengan leluasa, baik sendirian atau bersama lawan jenis. Namun dampaknya tidak semenyenangkan itu. Gara-gara kecanduan seks, karir dan kehidupan bisa hancur.

Hal ini misalnya dialami oleh Sami Walton. Di awal usia 20-an tahun, Sami sering kali pergi ke mana pun hanya demi bisa bertemu dengan seseorang yang bisa memuaskan hasrat biologisnya. Untuk keperluan ini, dia harus sering izin tidak masuk kerja. Mulanya sang bos maklum, namun lama-lama Sami dipecat.

Seorang pecandu seks tahu benar tindakannya bisa berbahaya, namun dia tidak peduli akan konsekuensinya. Dia bahkan berani mempertaruhkan kehidupannya sendiri dan kehidupan orang lain dalam bahaya, demi keberlangsungan perilaku seksualnya yang berlebihan itu.

Merasa hidup dan karirnya sudah benar-benar terganggu, Sami pun bergabung dengan support group 'Sex Addicts Anonymous'. Dia juga bertemu dengan pria yang sangat membantu dalam proses terapi untuk sembuh dari kecanduan ini.

"Kecanduan seks adalah masalah yang serius. Kebanyakan pria berpikir itu keuntungan memiliki pasangan yang senang dengan seks. Tapi bagi orang yang mengalaminya, itu amat menyiksa," kata Sami.

Beberapa perilaku yang terkait dengan kecanduan seks antara lain:

1. Masturbasi kompulsif atau berulang-ulang
2. Mengalami banyak affair di luar nikah
3. Memiliki banyak mitra seksual
4. Konsisten menggunakan pornografi
5. Melakukan seks tidak aman
6. Sering melakukan hubungan seks lewat telepon atau situs porno
7. Sering menggunakan jasa prostitusi
8. Kecondongan memperlihatkan kecakapannya dalam berhubungan seks
9. Mengalami voyeurisme (kelainan seks yang mana seseorang menemukan kenikmatan seksual dengan menyaksikan atau mengintip orang yang telanjang, membuka baju, atau melakukan seks).
10. Sering melakukan pelecehan seksual

Perilaku seksual kompulsif ditengarai lama-kelamaan dapat menyebabkan perubahan dalam sirkuit saraf otak, yaitu jaringan saraf yang memungkinkan sel-sel otak berkomunikasi satu sama lain. Perubahan ini dapat menyebabkan reaksi menyenangkan dengan terlibat dalam perilaku seksual dan reaksi tidak menyenangkan ketika perilaku dihentikan.

Terapis seks, Paula Hall, mengatakan untuk mengatasi kecanduan seks, maka yang bersangkutan mesti memahami apa penyebab kecanduannya. Seringkali, kondisi itu berkaitan dengan pengalaman masa lalu yang mengakar di pikirannya.

Namun kecanduan seks bisa juga terkait dengan masalah biologis. Untuk itu, selain konseling dengan terapis seks, yang bersangkutan juga bisa diberi obat-obatan medis oleh dokter yang bersinergi dengan si terapis.

Baca juga: 4 'Biang Keladi' yang Bikin Orang Jadi Pecandu Seks

(vit/up)

Berita Terkait