Jumat, 05 Okt 2018 19:15 WIB

Solusi Bagi Penyintas Kanker Payudara Agar Tak Malu Berhubungan Seksual

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Kehidupan seksual sering mengalami perubahan pasca pengobatan kanker payudara (Foto: thinkstock) Kehidupan seksual sering mengalami perubahan pasca pengobatan kanker payudara (Foto: thinkstock)
Jakarta - Bagi wanita pengidap kanker payudara, berhubungan intim bisa menjadi masalah selanjutnya usai mereka menjalani pengobatan. Menurut Jean Sachs, chief executive dari Living Beyond Breast Cancer, para dokter juga umumnya tak nyaman untuk membahas hal tersebut.

Sebagai seorang penyintas, ia juga mengalami banyak kondisi di mana ia merasa terbebani akibat 'tanggung jawab' sebagai seorang wanita. Pengobatan dan penanganan kanker payudara sering membuat wanita merasa tidak 'utuh' lagi sehingga merusak kehidupan seksual mereka.

"Penanganan kanker payudara menyebabkan beberapa efek samping seksual. Gejala-gejalanya tidak universal. Tipe, dosis dan durasi bisa menentukan apakah seorang wanita akan mengalami efek samping seksual dan tipe apa yang akan ia alami," kata Sabitha Pillai-Friedman, seorang terapis seks di Philadelphia, dikutip dari Healthline.



Efek samping seksual biasanya nyeri, mati rasa atau hipersensitivitas di area dada (karena operasi), rasa terbakar akibar radiasi dan perubahan pada tekstur dan warna jaringan payudara (akibat radiasi), vagina terasa nyeri, kering, iritasi, bengkak, rasa terbakar, dan atropi vagina (akibat kemoterapi dan terapi endokrin), serta beberapa masalah citra tubuh.

Sabitha menyebutkan bahwa skema seksual mereka, yakni rasa diri sebagai makhluk seksual, berubah karena perubahan fisik secara drastis yang mereka alami selama pengobatan.

Seorang penyintas kanker payudara lainnya, Cathy Brown, menjelaskan mengapa seks setelah terdiagnosis kanker sangat sulit untuk dibahas. Menurutnya, seks secara umum masih bahasan tabu dalam lingkungannya, apalagi seks usai terdiagnosis kanker.



Ia menceritakan pernah terus meminta maaf pada suaminya karena terus-terusan merasa marah dan cengeng mengenai kemoterapi yang ia jalani karena membuatnya merasa makin buruk. Namun beruntung, suaminya sangat terbuka untuk berkomunikasi dan ia mendapatkan dukungan penuh dari suaminya.

Bagi Melissa Turk, dua kali menjadi penyintas kanker payudara dan mastektomi ganda membuatnya harus bercerai dari suaminya. Ia merasa tubuhnya sangat asing hingga nyaris tak dikenal, bahkan ia harus menato puting pada dadanya karena bagian tersebut juga diangkat.

"(Saat berhubungan seksual pertama kalinya setelah operasi) aku merasa sangat tidak nyaman. Dan aku ketakutan. Aku sangat takut dan kabur dari rumahnya," ia mengisahkan.



Pillai-Friedman menyarankan bagi para perempuan penyintas ataupun yang sedang menjalami pengobatan kanker payudara dan sedang mengalami masalah pada hubungan seksual untuk:

- Menemukan profesional kesehatan yang dapat memberikan saran dan pengobatan untuk menangani efek samping seksual dari pengobatan kanker payudara
- Jika masalah seksual masih terus muncul, temui terapis seks untuk evaluasi dan penanganan
- Cari sumber terpercaya mengenai efek samping seksual dari pengobatan kanker payudara
- Terima bantuan dan dukungan dari keluarga dan teman terdekat supaya dapat memberikan istirahat bagi pasangan
- Komunikasikan pada pasangan tentang ketakutan dan kegelisahan dan mintalah dukungan emosional
- Luangkan waktu untuk berkecimpung pada aktivitas yang sering dilakukan sebelum terdiagnosis
- Seringlah menyentuh, berpelukan dan berkontak fisik non-seksual dengan pasangan.

Turk juga menambahkan, ia menekankan pentingnya berfokus pada kesehatan dan untuk menjadi lebih baik. Ia juga menyarankan untuk lebih menerima apa yang terjadi, dan jangan menganggap kanker payudara akan mengubah hidup ataupun diri sendiri.

"(Kanker payudara) tidak akan menentukan hidupmu. Juga tidak akan mengubah siapa dirimu. Kamu akan tetap menjadi orang yang sama," tandasnya.

(frp/up)
News Feed