Kamis, 14 Nov 2019 19:27 WIB

6 Hal Buruk yang Bisa Terjadi Saat Pasutri Berhenti Bercinta (1)

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Ilustrasi pasutri berhenti bercinta. Foto: thinkstock Ilustrasi pasutri berhenti bercinta. Foto: thinkstock
Jakarta - Sesi bercinta mungkin tak akan lagi masuk dalam menu para pasangan suami-istri yang telah menikah cukup lama. Beberapa hal bisa menjadi alasan, seperti sibuk mengurusi keluarga, bekerja, dan waktu yang terbatas.

Namun apakah Anda tahu bahwa berkurangnya sesi intim di ranjang bisa berdampak buruk bagi tubuh kita? Dirangkum dari Live Strong, berikut 6 hal buruk yang bisa terjadi apabila Anda dan pasangan berhenti melakukan sesi bercinta:



1. Menurunnya hormon endorfin

Rangsangan dan orgasme dapat menyebabkan pelepasan hormon endorfin yang bisa membuat rasa senang, meredakan rasa nyeri dan meningkatkan mood. Jika Anda dan pasangan mulai mengurangi sesi bercinta, bisa jadi Anda akan kekurangan hormon ini yang berdampak pada mood Anda.

2. Rentan stres

Usai seks, rasanya semua masalah dan beban terangkat dan pikiran menjadi ringan. Salah satu manfaat bercinta adalah melepas stres, dan tentu jika Anda berhenti melakukannya maka tubuh Anda akan menjadi lebih rentan terkena stres. Meski memang seks bukanlah satu-satunya cara untuk menangkal stres, namun seks berperan cukup besar apalagi saat Anda sudah berkeluarga. Di sisi lain, kadar stres yang tinggi bisa membuat Anda atau pasangan semakin tidak ingin melakukan seks.

3. Menurunnya kepuasan pada pasangan

Salah satu dampak terburuk dari berkurangnya sesi intim bagi pasutri adalah berkurangnya koneksi secara emosional dan kepuasan pada pasangan. Studi dalam Journal of Family Psychology menunjukkan bahwa wanita yang jarang melakukan hubungan seksual dilaporkan tak puas dengan pasangannya. Bisa jadi hal ini disebabkan tak adanya orgasme yang membantu melepaskan hormon oksitosin yang juga disebut 'hormon bonding', karena hormon ini memproduksi rasa percaya dan kedekatan yang bisa membantu Anda dan pasangan saling memandang secara positif.



4. Menurunnya harga diri

Tak hanya hubungan dengan pasangan, namun hubungan dengan diri sendiri juga bisa terkena dampaknya apabila sesi bercinta semakin jarang. Dari perspektif medis, jarang bercinta tak akan berdampak pada neurotransmitters atau penyakit medis, namun emosi dan penghakiman terhadap diri sendiri bisa sangat besar, hingga menimbulkan rasa cemas dan menurunnya harga diri.

5. Disfungsi ereksi

Jarang bercinta berarti berkurangnya waktu Mr P untuk ereksi. Menurut sebuah studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Medicine tahun 2008 menunjukkan bahwa hanya bercinta seminggu sekali bisa menurunkan risiko terkena disfungsi ereksi dibanding pria yang jarang bercinta. Disebutkan bahwa seks rutin bisa membantu melindungi pria dari risiko disfungsi ereksi.

6. Vagina 'kendor'

Seks rutin bisa membuat vagina wanita menjadi sehat. Sangat penting apabila usia Anda telah mencapai paruh baya dan di atasnya, menurut North American Menopause Society. Hal ini disebabkan vagina bisa menjadi kering dan 'kendor', di mana seks menstimulasi aliran darah ke kelamin Anda sehingga membantu mengencangkan otot vagina dan menjaga agar tak 'kendor'.



Simak Video "Menurut Riset, Ini 10 Waktu Favorit untuk Bercinta"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)