Sabtu, 25 Jan 2020 18:35 WIB

Bisakah Alergi pada Orgasme Sendiri? Studi Ini Menjawabnya

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Pria ternyata juga bisa alergi terhadap orgasmenya sendiri. Foto: thinkstock
Jakarta -

Tubuh kita merupakan zona yang sangat misterius. Setelah kita mengetahui bahwa seorang pria bisa alergi terhadap cairan semen dan spermanya sendiri, kini sebuah studi baru mengungkapkan bahwa kita juga bisa alergi terhadap orgasme.

Disebut secara medis dengan post-orgasmic illness syndrome atau sindrom penyakit pasca-orgasme (POIS), singkatnya alergi orgasme. Studi yang dilakukan di bulan Maret 2019 ini menggunakan objek seorang pria 25 tahun yang tak dipublikasikan identitasnya.

Pria tersebut dilaporkan selalu mengalami kecemasan, lesu, lemah fisik, pikiran berkabur, dan kesulitan berkata-kata usai ejakulasi. Dikutip dari Metro UK, gejala-gejala ini muncul langsung setelah orgasme atau bisa dua-tiga hari setelahnya selama antara satu hingga dua minggu.

"Kondisi ini berdampak pada aktivitas seksual pria tersebut. Karena gejalanya terjadi baik saat masturbasi dan seks, ia menghindari segala macam bentuk kesenangan diri dan bahkan berejakulasi saat bercinta dengan pasangannya, sehingga ia tak perlu mengalami dampak-dampak usai orgasme," tulis situs tersebut.


Para peneliti memastikan pria tersebut mengidap POIS, sebuah kelainan yang menyebabkan gejala tak menyenangkan usai ejakulasi, termasuk juga kelelahan parah, hidung tersumbat, mata terbakar, kesulitan konsentrasi, depresi, dan uring-uringan. Hal ini tentu berbeda dengan alergi cairan semen.

Belum banyak pria yang mengetahui soal POIS dan kemungkinan besar banyak dari mereka yang diam-diam bertarung melawannya dan berakhir menghindari kepuasan seksual. Kabar baiknya, studi baru ini bisa membantu menemukan sebuah pengobatan, karena sebelumnya pengidap POIS hanya diberikan antihistamin dan antidepresan.

Kasus pria tersebut sayangnya berbeda karena memiliki kadar testosteron yang rendah, sehingga harus ditambah dengan terapi hormon. Setelah mendapatkan pengobatan, dalam waktu enam minggu gejala yang ia alami mulai hilang dan ia bisa sering ejakulasi dan tak lagi mengalami kesulitan seperti sebelumnya, yang diakui pertama kalinya sejak ia berusia 16 tahun.

Namun tentu saja, ini hanyalah satu studi kasus dan riset lebih lanjut mengenai alergi orgasme dan POIS masih sangat dibutuhkan. Sementara belum ada obat penyembuh dan para ahli masih belum benar-benar memahami mengapa beberapa orang mengalami hal ini. Jika Anda mengalami gejala-gejala di atas usai orgasme, jangan malu-malu, segera periksakan diri ke dokter.



Simak Video "Si Kecil Alergi, Berikut Cara Jaga Imunitasnya"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)