Senin, 18 Okt 2021 19:19 WIB

Duh! Hampir 60 Persen Wanita di Singapura Punya Fungsi Seksual Rendah

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
View of the merlion statue of Merlion Park, and the financial district in downtown Singapore. The merlion is a symbol and mascot of Singapore. Foto: Getty Images/Marcus Lindstrom
Jakarta -

Studi terbaru melihat hampir 60 persen wanita Singapura mengalami fungsi seksual rendah, kerap berisiko terkena disfungsi seksual. Studi yang dilakukan KK Women's and Children's Hospital (KKH) mengungkap hasil analisis mereka.

Wanita-wanita tersebut disebut kesulitan hamil, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk hamil. Studi dilakukan per Juni 2021, meneliti lebih dari 500 wanita di usia reproduksi, rentang usia 18 hingga 45 tahun.

Mereka diminta untuk menilai pengalaman seksual pribadi di enam poin. Di antaranya keinginan, gairah, pelumasan, orgasme, kepuasan, dan rasa sakit saat berhubungan intim.

Setiap pertanyaan diberi skor nol hingga lima poin, total skor jika diakumulasikan berjumlah dua hingga 30.

Menurut para peneliti, mereka yang memiliki skor total atau di bawah nilai rata-rata 22, termasuk memiliki fungsi seksual yang rendah dan berisiko mengalami disfungsi seksual. Mereka juga didefinisikan memiliki masalah berulang yang terus-menerus saat berhubungan seks, termasuk rasa sakit.

Sebagai bagian dari penelitian, para wanita juga diwawancara soal detail informasi pribadi termasuk usia, etnis, dan status perkawinan. Tidak lupa riwayat kehamilan, kebiasaan gaya hidup, hingga aktivitas fisik dan kesehatan mental.

Mereka kemudian diberikan tes kehamilan di rumah dan diobservasi selama satu tahun. Hasil penelitian menunjukkan 58,6 persen wanita Asia di Singapura memiliki skor kurang dari 22, artinya mereka berisiko mengalami disfungsi seksual.

"Di antara enam poin gangguan seksual yang diperiksa, hasrat seksual yang rendah dan jarang mencapai orgasme lebih sering dilaporkan pada wanita," ungkap penelitian tersebut.

Studi tersebut juga menemukan perbandingan dengan wanita fungsi seksual tinggi, mereka yang memiliki fungsi seksual rendah mengalami penurunan peluang hamil dalam satu tahun sebesar 27 persen.

"Penurunan ini dapat dikaitkan dengan para wanita yang kurang berhubungan seks karena pengalaman seksual tidak menyenangkan dan sulit menemukan momen intim dengan pasangan saat bercinta," kata para peneliti.

"Tekanan psikologis juga dapat memicu ketidakseimbangan hormon, mengganggu ovulasi, dan dengan demikian menunda kehamilan," tambah mereka.

Studi ini dilakukan di tengah peningkatan warga Singapura mengalami disfungsi seksual, sebuah fenomena yang juga diamati peningkatannya secara global.

Menurut KKH, dalam tiga tahun terakhir, klinik kesehatan seksual mereka telah menangani rata-rata 90 kasus baru setiap tahun.

"Bentuk paling umum dari disfungsi seksual wanita adalah vaginismus," kata pihak RS.

Apa itu vaginismus?

Vaginismus adalah gangguan kejang atau spasm tak disengaja pada otot dasar panggul wanita. Tahun lalu, bahkan di tengah pandemi COVID-19, klinik kesehatan seksual mencatat 100 kasus baru vaginismus, melonjak 60 persen dari 2017 silam.

dr Kelly Loi, seorang dokter kandungan dan ginekolog, dan direktur medis di Mount Elizabeth Fertility Centre, mengatakan dia melihat sekitar dua hingga empat pasangan setiap minggu yang mencari perawatan kesuburan karena tidak bisa sering berhubungan seks akibat masalah nyeri (dispareunia). Dia melihat dua sampai empat pasangan dalam sebulan, tidak dapat mencapai seks penetrasi karena vaginismus.

"Dengan dispareunia, mungkin bisa melakukan seks, tetapi menyakitkan dan tidak nyaman. Namun, dengan vaginismus, seks penetrasi sama sekali tidak mungkin terjadi karena ada ketakutan psikologis akan rasa sakit," kata dr Loi.

Dampak disfungsi seksual

Jika tidak teratasi, disfungsi seksual wanita bisa mempengaruhi kesehatan mental dan fisik. Begitu juga dengan kualitas hubungan dan kualitas hidup bagi wanita dan pasangan.

"Ini juga merupakan penghalang utama untuk konsepsi dan prokreasi," kata KKH.

"Studi ini menegaskan bahwa fungsi seksual yang rendah di antara wanita lokal dapat menjadi penyebab utama dalam kontribusi tingkat kesuburan yang rendah di Singapura," kata Dr Tan Tse Yeun, konsultan di Departemen Kedokteran Reproduksi KKH.

Tingkat kesuburan Singapura adalah 1,1 pada 2019, salah satu yang terendah di dunia. Hanya Puerto Rico dan Korea Selatan yang melaporkan tingkat yang lebih rendah masing-masing 1,0 dan 0,9. Hong Kong dan Malta juga melaporkan tingkat kesuburan 1,1, menurut angka yang dirilis Bank Dunia.

"Jika masalah ini terus berlanjut, itu bisa berkontribusi terhadap penurunan angka kelahiran nasional," tambah dr Tan.



Simak Video "Covid-19 Menggila, Singapura Alami Krisis Nakes"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/fds)