Ladies, Penasaran Cara Squirting? Ssst... Ternyata Begini Penjelasannya

ADVERTISEMENT

Ladies, Penasaran Cara Squirting? Ssst... Ternyata Begini Penjelasannya

Fadilla Namira - detikHealth
Minggu, 18 Des 2022 21:00 WIB
Concept sex, masturbation. Hand, fingers in grapefruit, vagina symbol on a red background
Ilustrasi squirting. (Foto: iStock)
Jakarta -

Ladies, pernahkah kamu merasakan 'ngompol' saat berhubungan seks? Jika ya, hal itu dinamakan squirting, yaitu peristiwa umum yang terjadi wanita saat wanita ejakulasi.

Squirting sebenarnya sudah ada sejak era Kama Sutra, sekitar 200-400 masehi. Saat itu, istilah 'squirting' lebih dikenal dengan 'female semen' yang berarti air mani wanita yang turun terus-menerus. Lantas, apa bedanya squirting dan ejakulasi biasa?

Keduanya sama-sama memicu pengeluaran cairan dari kelenjar skene (bartholin) ketika orgasm, yaitu dua saluran kecil di sepanjang kedua sisi uretra yang terletak di bagian depan dinding vagina. Namun pada squirting, cairan yang keluar tersebut biasanya bercampur dengan urine juga.

Lain halnya dengan inkontinensia seksual atau inkontinensia coital, yakni kondisi seseorang sulit menahan buang air kecil meski tanpa adanya rangsangan seksual. Kondisi tersebut merupakan masalah kesehatan yang dapat mengganggu aktivitas seksual dan menurunkan libido sehingga harus segera diatasi.

Apa Sih yang Bikin Wanita Bisa Squirting?

Sayangnya, tidak semua wanita punya kemampuan untuk squirting. Pun penyebabnya sendiri untuk saat ini belum bisa diketahui pasti dan tengah diteliti lebih lanjut oleh para pakar. Namun, penting untuk mengetahui fakta-fakta squirting berikut ini:

  • Wanita terkadang tidak bisa squirting sampai usia 60 tahun
  • Squirting dapat terjadi sebelum, selama, atau setelah orgasme
  • Tidak ada satu cara spesifik untuk membuat wanita bisa squirting
  • Kelenjar skene memiliki bentuk berbeda pada setiap wanita

Squirting Membuat Seks Lebih Dramatis?

Ketika wanita squirting, hubungan seks mungkin jadi lebih unik dan mengasyikkan, terutama saat pertama kali terjadi. Akan tetapi, squirting tidak boleh dianalogikan sebagai tolak ukur mencapai kepuasan seksual.

Sebab, seks harus dilihat sebagai momen untuk seseorang memperoleh gairah dan kesenangan secara fisik serta emosional. Fakta medis menunjukan bahwa risiko stres dan kecemasan akan meningkat pada wanita jika squirting dijadikan bahan acuan seksual.

Dengan demikian, komunikasi dan mencoba hal baru dalam kepuasan seks penting untuk dilakukan pasangan untuk mempelajari apa yang menyenangkan dan tidak.

Pakar kecantikan dan seksual wanita, dr Adrienne Lara menyarankan untuk merangsang klitoris dan G-spot secara bersamaan bila tetap ingin merasakan sensasi squirting. Cara ini diyakini bisa merangsang kelenjar skene dan ejakulasi sekaligus.



Simak Video "Populasi Menurun dalam 60 Tahun, Generasi Muda China Enggan Berkeluarga"
[Gambas:Video 20detik]
(Fadilla Namira/vyp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT