Terlahir Kembar Tiga, Dua Orang Kena Kanker

Terlahir Kembar Tiga, Dua Orang Kena Kanker

- detikHealth
Kamis, 18 Agu 2011 08:12 WIB
Terlahir Kembar Tiga, Dua Orang Kena Kanker
Cambridge - Penelope, Ashley dan Miranda terlahir sebagai triplet alias kembar tiga. Namun kehidupan mereka berubah saat menginjak dewasa karena dua diantaranya menderita kanker dan salah satunya meninggal dunia.

Miranda Jones (35 tahun) adalah seorang dokter umum yang banyak melihat pasien kanker. Ia tahu betul bagaimana perasaan keluarga dari pasien-pasien kanker, karena dua saudara kembarnya juga menderita kanker.

Saudara laki-lakinya, Ashley, didiagnosis kanker testis pada usia 28 tahun dan saudara perempuannya, Penelope, telah meninggal karena tumor otak langka pada tiga tahun yang lalu, saat berusia 32 tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yang paling menyedihkan, saat Penelope menjalani pengobatan, ia harus kehilangan bayi dalam kandungannya akibat efek samping obat kanker.

"Kehilangan Pen membuat keluarga benar-benar merasakan neraka. Sebagai triplet, kami memiliki ikatan yang unik dan kami berdua merasa harus kehilangan sepertiga dari diri kami ketika saudari kami meninggal. Kami tidak ingin orangtua kami mengalami rasa sakit itu lagi," ujar Miranda yang kini sudah memiliki dua orang anak, seperti dilansir Mirror.co.uk, Kamis (18/8/2011).

Karena pengalaman berhadapan langsung dengan kanker itulah akhirnya membuat Miranda, Ashley serta kedua orangtuanya Roger dan Diana Tapp, mendukung pekerjaan penting yang dilakukan oleh Cancer Research UK untuk mendidik masyarakat tentang penyakit kanker dan menemukan cara baru untuk mengobatinya.

Roger (74 tahun) yang merupakan pensiunan dosen, bahkan setuju untuk menjadi model iklan kanker yang menyayat hati untuk kepentingan amal, yang saat ini ditayangkan pada beberapa channel televisi. Pada iklan tersebut, Roger tampak menahan air mata saat bercerita tentang Penelope.

"Saya pikir momen terburuk dari semuanya adalah ketika ahli bedah menunjukkan hasil scan otak dan hanya mengatakan 'Kita tidak bisa menyembuhkan penyakit ini', Penelope menatapku dan berkata 'Saya akan mati'," jelas Roger.

Tiga putra dan putri kembar Tapp dibesarkan di Cambridge dan hidup sangat bahagia di masa kanak-kanak. Ashley dan Miranda bekerja di bidang medis. Ashley adalah manajer komunikasi untuk perusahaan kesehatan, sedangkan Miranda masuk sekolah kedokteran.

"Pen satu-satunya 'arty'. Dia belajar sejarah kuno dan bahasa Prancis, serta ingin menjadi guru," tutur Ashley.

Menurut Ashley, dulu mereka selalu bermain bertiga. Penelope menyusun mainan berjajar dan bermain di sekolah sedangkan Miranda selalu mengajak kami bermain dokter-dokteran dan suster-susteran.

"Saya selalu bersedia menjadi pasiennya. Tetapi kami tidak pernah sakit. Namun ironinya sekarang dua diantara kami harus menderita kanker," jelas Ashley.

Ashley didiagnosis kanker pada tahun 2004. Saat itu ia baru kembali ke Inggris setelah bekerja di New York selama beberapa tahun. Ia merasa lebih bugar daripada sebelumnya, ia bahkan banyak melakukan olahraga seperti berenang dan menyelam.

"Tapi saya mulai merasa ada sensasi 'menyeret' di testis saya. Saya tak merasa tidak enak badan dan tidak ada benjolan (di testis), tapi saya tahu ada sesuatu yang tidak beres jadi saya berkonsultasi ke dokter," kenang Ashley.

Dokter mengatakan usia Ashley terlalu muda untuk menderita kanker. Ia harus beberapa kali di rujuk ke spesialis dan saat itu dokter menemukan kanker sudah menyebar ke sistem getah beningnya.

"Satu testisku diangkat dan diberi prostesis. Lalu saya menjalani beberapa bulan kemoterapi. Saya juga diundang untuk mengambil bagian dalam uji klinis yang dibantu dan didanai Cancer Research UK untuk membuat resep obat yang dapat mengurangi efek samping dari kemoterapi," jelas Ashley.

Ashley mengatakan tak pernah membicarakan masalah testis kepada orang lain, apalagi kepada saudarinya. Tetapi ketika didiagnosis kanker testis, Miranda memeriksa dan merencanakan perawatan serta menjelaskan semua obat untuknya.

"Dia benar-benar tidak khawatir karena dia tahu kanker ini dapat disembuhkan. Bila diketahui lebih awal, maka ada 60-70 persen kesempatan untuk kelangsungan hidup," tutur Ashley.

Kemudian pada tahun 2007, kanker menyerang kembaran lainnya. Penelope yang sedang menjalani pelatihan menjadi guru, didiagnosis dengan glioblastoma, yaitu tumor ganas di otak yang tidak mungkin diobati dan masih jarang terjadi.

"Ini sangat menghancurkan kami, tetapi lebih dari itu karena dia sedang hamil. Para dokter tidak yakin apa yang harus dilakukan, apakah harus mencoba membuat umur Pen lebih panjang namun akan membunuh bayinya. Ini adalah mimpi buruk medis dan mimpi buruk bagi keluarga. Kanker jenis ini pembunuh dan mengerikan," ujar Ashley.

Bayi Pen meninggal saat usia kandungan menginjak 22 minggu. Sedangkan Penelope meninggal pada bulan Juli 2008 dengan orangtua, suami dan saudara-saudara ada disampingnya.




(mer/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads