Selasa, 20 Sep 2011 15:07 WIB

Hampir Mati Karena Pakai Tampon Saat Menstruasi

- detikHealth
Jakarta - Penggunaan tampon saat menstruasi di kalangan perempuan Indonesia memang tidak lazim karena lebih praktis memakai pembalut ketika datang bulan. Tampon biasanya dipakai dengan memasukkannya dalam vagina. Seorang gadis remaja di Inggris nyaris mati saat memakai tampon.

Paige Roffey yang berusia 15 tahun, pingsan di rumahnya di Rayleigh, Essex oleh karena Toxic Shock Syndrome setelah menggunakan tampon. Tampon tersebut digunakan hanya dalam 4 jam saja.

Awalnya Paige dikirim pulang dari rumah sakit oleh dokter yang berpikir bahwa gadis tersebut terkena virus. Tetapi Paige kemudian dibawa kembali ke Southend Hospital setelah pingsan di kamar mandi.

"Kata dokter, Paige berada dalam kondisi kritis dan koma selama dua hari. Aku duduk di samping ranjang putriku dan mulai merencanakan pemakamannya. Saya tidak berpikir bahwa anakku akan selamat," ujar Ibu Paige, yang bernama Sarah (39 tahun) seperti dilansir dari dailyMail, Selasa (20/9/2011).

Tetapi untungnya, kondisi Paige membaik dan dapat meninggalkan rumah sakit setelah 10 hari. Sekarang ibu dan anak tersebut menjadi sangat tertarik untuk menyoroti potensi bahaya penggunaan tampon.
 

 
 
Tampon biasa digunakan untuk menyerap darah menstruasi yang pemakaiannya ditempatkan di dalam vagina. Sebuah tampon terbuat dari bahan penyerap, tetapi kemudian didesain menjadi bentuk silinder kecil yang ketat.

Karena penempatannya yang agak sulit di dalam vagina, maka beberapa tampon memiliki aplikator. Aplikator tersebut biasanya merupakan tabung plastik atau kardus yang dapat membantu untuk menempatkan tampon. Jenis tampon yang lainnya juga dapat dimasukkan dengan menggunakan jari.

Kondisi yang dialami Paige Roffey menurut dokter adalah Toxic Shock Syndrome. Toxic shock syndrome sangat jarang terjadi yang biasanya disebabkan oleh racun bakteri, namun dapat menjadi sangat parah.

Sindrom ini mempengaruhi sedikitnya 20 orang per tahun, yang kebanyakan karena trauma seperti luka bakar atau gigitan serangga. Hanya sekitar dua kasus per tahun yang memiliki hubungan dengan penggunaan tampon.

Kebanyakan peringatan mengenai bahaya risiko Toxic Shock Syndrome yang terkait dengan penggunaan tampon adalah jangan menggunakan tampon terlalu lama.

Tetapi para ahli mengatakan bahwa, kondisinya dapat berkembang menjadi lebih parah setelah hanya beberapa jam pemakaian pada beberapa remaja perempuan. Kondisinya dapat menjadi parah jika para remaja perempuan tidak memiliki antibodi yang cukup untuk melawan infeksi yang menyebabkan Toxic Shock Syndrome.

Hal inilah yang dialami oleh Paige Roffey keracunan karena antibodi dalam tubuhnya tak cukup untuk melawan Toxic Shock Syndrome.

"Paige terus menerus merasa sakit, jadi kami membawanya ke Southend Hospital's A&E department. Dokter mengatakan Paige terkena virus, kemudian kami membawanya pulang tetapi ia masih belum baik dan menjadi benar-benar sakit pada malam hari. Lalu Paige pingsan di kamar mandi, sehingga kami membawanya kembali ke rumah sakit," kata Sarah.

Dokter menemukan bahwa tekanan darah Paige sangat rendah dan apabila Paige tidak segera dibawa ke rumah sakit, maka akan berakibat sangat fatal. Kemudian dokter mengatakan Paige harus dirujuk ke Great Ormond Street.

Para petugas kesehatan memberikan pertolongan pertama pada Paige yang mengalami koma sebelum dirujuk, hingga Paige dapat melakukan perjalanan untuk menuju Great Ormond Street. Dokter mengatakan pada Sarah bahwa, kondisi Paige sangat kritis dan harus dipantau sepanjang perawatan.

Dokter terus memantau Paige yang mengalami koma selama 2 hari dan kemudian mengurangi obat secara bertahap. Tetapi dokter memperingatkan bahwa mungkin otak Paige akan mengalami kerusakan ketika bangun dari koma. Sarah tetap menunggui Paige di samping tempat tidurnya dengan suaminya, Michael Clarke yang berusia 31 tahun.

Kondisi saat itu terasa sangat mengerikan bagi Sarah dan Michael. Sarah dan Michael sudah pasrah dan keduanya sangat berterima kasih pada dokter dan para petugas kesehatan, karena pada akhirnya berhasil menyelamatkan putrinya.

Paige cukup pulih untuk dirujuk kembali ke Basildon Hospital karena Southend Hospital telah penuh. Meskipun masih lemah, Paige tetap kembali ke sekolah, dan bertekad untuk memperingatkan remaja perempuan lainnya dari bahaya menggunakan tampon.

"Saya masih merasa sakit selama beberapa hari tetapi kemudian saya sudah mendapatkan kekuatan kembali dan sehat sepenuhnya," kata Paige.

Seorang juru bicara dari Proctor and Gamble, pembuat Tampax yang merupakan produk tampon yang digunakan oleh Paige, mengatakan pihaknya melakukan penyelidikan dan menganalisis kasus tersebut. "Namun kami belum menemukan sesuatu hal yang berarti, sehingga kami melanjutkan penyelidikan," katanya.

Paige dan keluarganya kemudian meluncurkan kampanye dan akan membagi-bagikan selebaran di sekolah Paige mengenai kewaspadaan penggunaan tampon.

Penggunaan tampon memang lebih susah dan tidak praktis dibandingkan dengan penggunaan pembalut. Selain itu, telah terjadi banyak kasus toxic shock syndrome yang disebabkan oleh penggunaan tampon.


(ir/ir)