Stroke Dikira Vertigo, Nyawa Pasien Tak Tertolong

Stroke Dikira Vertigo, Nyawa Pasien Tak Tertolong

- detikHealth
Senin, 17 Okt 2011 16:36 WIB
Stroke Dikira Vertigo, Nyawa Pasien Tak Tertolong
Jakarta - Seorang mantan pelari marathon meninggal karena stroke setelah dua hari sebelumnya dokter salah mendiagnosis dengan vertigo. Meski nyawanya tak tertolong, pria tersebut justru menolong 5 nyawa dari organ tubuhnya yang didonorkan.

Jeff Wingrove (48 tahun) meninggal karena serangan stroke berat yang salah diagnosa. Saat mengalami serangan stroke, Isabelle sang istri telah menghubungi seorang dokter umum yang berpraktik di Braintree, Essex. Namun saat dihubungi melalui telepon, ia menolak untuk memeriksa Jeff di rumah. Dokter tersebut hanya mengatakan Jeff menderita vertigo dan diresepkan obat mabuk.

Jeff akhirnya meninggal di rumah sakit dua hari kemudian karena serangan stroke. Dokter yang salah diagnosa tersebut akhirnya mendapatkan peringatan oleh General Medical Council tetapi tidak dilarang berpraktik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bahkan sekarang saya tidak bisa memaafkan dokter tersebut untuk apa yang sudah ia lakukan. Jika saja ia mau repot untuk keluar dan melihat Jeff, mungkin suamiku masih hidup sekarang," ujar Isabelle (54 tahun), seperti dilansir Thesun, Senin (17/10/2011).

Isabelle menceritakan kejadian sebelum Jeff meninggal. Saat itu adalah hari Sabtu dan pasangan suami istri ini berencana akan pergi berbelanja.

"Tapi sebelum pergi Jeff pergi ke kamar mandi. Dia keluar merangkak dengan tangan dan lutut, saya melihat dia begitu kesakitan. Dia berhasil merangkak ke tempat tidur. Ia mengatakan kepalanya sangat sakit. Saat ia mengatakan segera hubungi dokter saya tahu ada yang serius karena ia tidak pernah mengalami penyakit ini sebelumnya," jelas Isabelle.

Isabelle menelepon dokter, tetapi karena hari Sabtu dokter menyuruhnya untuk langsung dibawa ke layanan di Mid Essex Hospital Services NHS Trust, dimana Dr Francisca Ogunbiyi yang salah mendiagnosanya bekerja.

Isabelle meminta kunjungan rumah namun sang dokter menolak. Ia hanya mengatakan Jeff menderita vertigo dam diresepkan obat mabuk. Tapi kondisi Jeff memburuk dan Isabelle menghubungi dokter kembali. Isabelle mengatakan Dr Ogunbiyi menyuruhnya membawa Jeff ke rumah sakit untuk bisa mendapatkan pertolongan dokter.

"Saya berusaha membawa Jeff keluar dari tempat tidur, tapi dengan tinggi Jeff yang mencapai 183 cm dan saya kurang dari 152 cm, itu jadi hal yang mustahil," kenang Isabelle.

Pada malam harinya, Isabelle menelepon ambulans tetapi ketika paramedis tiba, mereka juga mengatakan Jeff hanya menderita vertigo. Namun keesokan harinya, Isabelle menemukan Jeff telah jatuh dari tempat tidur.

"Itu mengerikan, meski ia sudah kesakitan sepanjang malam tapi ia dapat berbicara secara normal dengan saya. Tapi setelah kejadian itu, ia bahkan tak mengenali saya. Ia mengalami stroke kedua," jelas Isabelle.

Isabelle berpikir kondisi ini sudah sangat fatal. Ia bergegas memanggil ambulans dan membawa Jeff ke rumah sakit. Ia meninggal keesokan harinya pada usia 48 tahun.

"Dokter (di rumah sakit) mengatakan itu bukan vertigo tapi stroke. Saat saya diberitahu bahwa bila ia segera menerima bantuan tepat pada saat pertama kali jatuh, ia mungkin akan selamat," kenang Isabelle.

Isabelle juga merelakan organ suaminya didonorkan bagi orang-orang yang lebih membutuhkan. Jantung Jeff diberikan pada seorang pria usia 19 tahun, dua paru-parunya untuk pria usia 53 tahun, hati untuk pria 50 tahun, pankreas untuk wanita 35 tahun dan ginjalnya untuk wanita usia 35 tahun lain.

"Kami tidak pernah mendiskusikan donasi organ tapi saya tahun itu adalah yang ia inginkan," jelas Isabelle dengan isak tangis.




(mer/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads