Ibu Meninggal Karena Tolak Kemoterapi Agar Bayi Lahir Sehat

Ibu Meninggal Karena Tolak Kemoterapi Agar Bayi Lahir Sehat

- detikHealth
Kamis, 29 Des 2011 12:15 WIB
Ibu Meninggal Karena Tolak Kemoterapi Agar Bayi Lahir Sehat
Jenni Lake (dok. dailymail)
Pocatello, Idaho - Jenni Lake melahirkan putranya sebulan sebelum ulangtahun ke-18. Jenni memang salah satu dari ibu remaja, namun pengorbanannya sangat besar untuk bisa menjadi ibu. Ia meninggal karena menolak kemoterapi untuk mengobati kanker yang bersarang di otak agar putranya dapat lahir dengan sehat.

Jenni kerap mengalami migrain saat berusia 16 tahun ketika masih duduk di bangku sekolah Pocatello High School. Dari hasil MRI scan, dokter keluarga menemukan massa kecil berukuran 2 cm yang melebar di sisi kanan otaknya.

Ketika diperiksa di rumah sakit di Salt Lake City, hasil scan lain menunjukkan massa yang lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya. Jenni menjalani biopsi pada 15 Oktober 2010 dan 5 hari kemudian ia didiagnosis dengan astrocytoma (jenis tumor otak) stadium tiga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan 3 tumor di otak dan 3 tumor di tulang punggungnya, Jenni diberitahu bahwa kasusnya jarang terjadi karena tumor di otaknya telah menyebar ke bagian tubuh lain tanpa ada gejala.

Dokter mengatakan kesempatan hidup Jenni hanya tinggal 30 persen selama 2 tahun. Sementara kedua orangtuanya merasa sangat hancur, hal itu tidak terjadi pada Jenni.

"Dia tidak hancur, menangis atau apapun," jelas Mike Lake (43 tahun), ayahnya yang bekerja sebagai sopir truk yang tinggal di Rexburg, utara Pocatello, seperti dilansir Foxnews, Kamis (29/12/2011).

Tapi ibunya mengatakan bahwa Jenni terlihat lemah ketika dokter mengatakan bahwa ia tidak bisa memiliki anak.

"Ketika mereka mengatakan bahwa dia tidak mungkin bisa punya anak, dia marah," ujar Phillips (39 tahun), ibunda Jenni.

Pada awalnya Jenni mulai menjalani kemoterapi dan perawatan radiasi. Ia pun memposting video di YouTube, yang menceritakan kisah hidup dan perjalanannya melawan kanker otak. Jenni sempat memposting 3 video.

Jenni terlihat tegar. Namun pada video kedua yang diposting pada 20 November 2010, Jenni tampak kebingungan ketika temannya merekam kegiatan makan siangnya bersama ibu.

"Tadi malam, saya hanya berbaring di tempat tidur dan saya berpikir tentang segala sesuatu yang sedang terjadi, itu membuatku terpukul, itu membuatku menangis. Apakah Anda tahu betapa sulitnya menjadi seorang ibu? Ketika dia tahu bahwa Anda sakit tetapi tidak ada yang dapat ia lakukan. Ini sulit. Saya tidak tahu berapa lama ini akan bertahan dan saya hanya ingin pergi," kata Jenni dalam video.

Pada Mei 2011, menurut keluarga tumor Jenni sudah mulai menyusut. Jenni juga sempat menghadiri prom nigth bersama kekasihnya Nathan Wittman. Jenni dan Nathan mulai berhubungan beberapa minggu sebelum ia didiagnosis kanker. Hubungan remaja mereka bertahan dengan ujian yang berat setelah Jenni menjalani perawatan kanker.

Banyak teman yang menganggap Nathan hanya mau berhubungan dengan Jenni karena ia menderita kanker. Namun hubungan itu semakin berlanjut hingga akhirnya Jenni dinyatakan hamil 10 minggu.

Dari awal pengobatan, keluarga dan Jenni sudah diberitahu bahwa ia tidak mungkin akan punya anak karena radiasi dan kemoterapi bisa membuatnya steril (infertil atau mandul).

"Kami diberitahu bahwa dia tidak bisa hamil, jadi kami tidak khawatir tentang hal itu (berhubungan seksual)," kata Nathan (19 tahun).

Namun berbeda dengan Jenni, dia selalu ingin menjadi seorang ibu dan dia sudah bertekad menjaga bayinya tetap sehat.

"Dia mengatakan kepada kami bahwa jika dia hamil, dia tidak bisa melanjutkan perawatan kanker. Jadi, dia harus memilih mengakhiri kehamilan dan melanjutkan perawatan, atau menghentikan pengobatan dan mengetahui bahwa kanker bisa terus tumbuh," kata ibunya.

Jenni memutuskan untuk menghentikan pengobatan kanker dan menolak kemoterapi agar anaknya dapat lahir dengan sehat. Keluarganya pun berpikir bahwa tumor Jenni sudah mulai menyusut. Ia mungkin masih bisa melanjutkan pengobatan kanker nanti setelah bayinya lahir.

Namun kenyataan berkata lain, Jenni memang melahirkan putranya yang bernama Chad Michael dengan selamat dan sehat, tapi kondisi tubuhnya sendiri sudah sangat lemah.

Jenni meninggal setelah melahirkan Chad. Ia sama sekali tidak menyesal dengan keputusannya. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Jenni bahkan sempat berbisik kepada perawat di rumah sakit.

"Saya sudah selesai, saya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Bayi saya akan aman disini," bisik Jenni pada perawat.





(mer/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads