Zoila Leiva (42 tahun) dari Whittier, California menolak melakukan aborsi. Ia menuturkan para dokter berbicara bahwa ada studi di The Lancet yang menjelaskan wanita hamil dengan kanker payudara bisa diobati dengan aman dan tidak perlu menunda pengobatan hingga ia melahirkan.
Tim dari Leuven Cancer Institute, Belgia menemukan kemoterapi bisa dengan aman diberikan pada ibu hamil di trimester kedua dan ketiga kehamilan tanpa mempengaruhi bayi yang masih dikandung. Sedangkan secara umum operasi aman dilakukan selama ketiga trimester kehamilan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Februari 2007, Leiva pertama kali merasakan adanya benjolan di payudara. Tapi saat itu hasil dari mamogram dan USG mendiagnosis ia dengan kista jinak. Namun pada bulan Desember di tahun yang sama ia didiagnosis kanker dan dihadapkan pada keputusan yang mengerikan yaitu hidup atau mati.
"Dokter onkologi saat itu merekomendasikan aborsi karena kanker saya sudah menyebar hingga ke kelenjar getah bening," ujar Leiva, seperti dikutip dari Dailymail, Senin (13/2/2012).
Saat itu dokter memberinya waktu 2 minggu, tapi setelah mendengar prosedur tersebut, Leiva merasa ngeri. Hal ini karena ia sudah bisa merasakan bayinya bergerak, dan ia berpikir bisa mati depresi jika harus membunuh bayi yang dikandungnya. Ia pun akhirnya menolak aborsi tersebut.
Setelah dibantu oleh yayasan pendukung kanker, Hope For Two, Leiva pun pergi menemui beberapa dkter ahli termasuk dokter kandungan Dr Elyce Cardonick yang mengatakan bahwa ia bisa mendapatkan pengobatan saat hamil, hal ini karena ia sudah meleati trimester pertama kehamilannya.
Ia pun memulai program pengobatan kemoterapi dari Orange Coast Memorial Medical Center di Fountain Valley, California. Leiva memiliki 4 putaran kemoterapi selama 12 minggu. Pada saat ia siap melahirkan dan direkomendasikan di usia kehamilan 32 minggu, tumornya sudah berkurang.
Leiva menjalani operasi caesar yang ditangai 3 dokter spesialis, akhirnya pada April 2008 ia melahirkan bayi kembar Julian dan Joel. Keduanya merupakan bayi yang sehat dan kuat.
"Para dokter telah mengatakan pada saya bahwa mereka bisa saja berada di perawatan intensif selama 5 minggu, tapi mereka justru siap untuk pulang hanya dalam waktu 2 minggu," ujar Leiva.
Leiva masih harus menjalani pengobatannya setelah melahirkan, ia memiliki 10 putaran kemoterapi dengan menggunakan obat yang lebih toksik. Untungnya penyakit ini tidak menyebar ke organ vitalnya. Ketika bayinya berusia 6 bulan, ia menjalani mastektomi ganda dan rekonstruksi payudara.
Kemoterapi selesai pada Januari 2009. Namun ia masih harus menjalani pengobatan radioterapi selama 2 bulan dan mengosumsi Herceptin sampai November 2010. Selama 3 tahun menjalani pengobatan, ia mengatakan menikmati setiap harinya dan menghabiskan waktu bersama anak-anaknya.
Kanker payudara pada ibu hamil umumnya telat didiagnosis, karena biasanya gejala yang muncul dikaburkan oleh perubahan yang terjadi selama kehamilan seperti meningkatnya ukuran payudara.
"Kebanyakan ibu hamil merasa lebih kuat dan bahkan lebih termotivasi untuk menjalani pengobatan kanker, karna dia juga sedang berjuang untuk anaknya," ujar Dr Frederic Amant, dokter dari Leuven Cancer Institute, Belgia.
Meski begitu, Dr Amant mengakui bahwa kanker payudara pada kehamilan tetap menantang, karena dalam beberapa situasi, kanker sudah stadium lanjut yang bisa menyebabkan kematian ibu dan bayi.
"Saya ingin wanita tahu bahwa masih ada harapanbagi mereka untuk menyelamatkan hiduonya dan juga bayi yang dikandung. Kanker tidak harus menjadi hukuman mati," ujar Leiva.










































