Bagas yang Harus Selalu Minum Obat Agar Epilepsi Tak Kambuh

Bagas yang Harus Selalu Minum Obat Agar Epilepsi Tak Kambuh

Merry Wahyuningsih - detikHealth
Rabu, 21 Mar 2012 17:33 WIB
Bagas yang Harus Selalu Minum Obat Agar Epilepsi Tak Kambuh
Maripah & Bagas (dok. eugeniacomm)
Jakarta -

Sejak berusia 2 tahun, Bagas sudah terdiagnosis epilepsi. Bocah laki-laki itu pun kini harus rutin minum obat agar serangan epilepsi tidak kambuh dan ia masih bisa menikmati masa kanak-kanaknya yang ceria.

Bagas Priya Ananda (5 tahun) terdiagnosis epilepsi sejak tahun 2010. Saat itu, Bagas tidak menunjukkan gejala kejang-kejang yang umum pada penyandang epilepsi parah, namun ia menunjukkan gejala yang berulang pada kepalanya.

"Pulang main, kepalanya nengok-nengok ke kanan terus. Saya kaget. Saat ditanya dia bilang nggak apa-apa, tapi kok nengok terus. Saat tidur kepalanya juga nengok-nengok, terus tertidur lagi," ujar Maripah (29 tahun), ibunda Bagas, dalam acara media edukasi 'Patuh Pada Pengobatan Agar Epilepsi Terkontrol', di Hotel JW Marriot, Jakarta, Rabu (21/3/2012).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melihat gejala aneh pada putra pertamanya itu, Maripah pun langsung membawanya ke klinik dekat rumah. Dokter klinik menyarankan membawa Bagas ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Dari dokter umum dan dokter anak, Maripah dirujuk ke dokter saraf, disitulah ketahuan bahwa Bagas mengalami gangguan otak epilepsi.

Sejak pertama kali terdiagnosis, Maripah patuh memberikan pengobatan pada anaknya. Hal ini dilakukan agar serangan epilepsi Bagas berkurang atau tidak kambuh lagi.

Namun harga obat yang mahal membuat Maripah sempat menghentikan pengobatan Bagas. Hal ini berdampak pada serangan epilepsi yang semakin sering. Bila tidak ditangani, hal ini bisa berdampak buruk pada pertumbuhan dan perkembangan otak Bagas.

Untuk mendapatkan pengobatan bagi putranya, ibu dua anak yang tinggal di Jakarta Timur ini pun harus mengurus berbagai surat, termasuk SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) yang bisa memudahkannya untuk mendapatkan obat dengan harga yang lebih murah.

"Dari obat yang harganya Rp 800 ribu bisa jadi Rp 100 ribu. Sekarang minum obatnya sudah teratur, dari Juni 2011 sudah tidak ada serangan. Dulu sehari serangan bisa sampai 30 kali," jelasnya.

Bagas pun kini tengah duduk di bangku PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Meski penyakitnya ini tidak dilaporkan secara resmi ke pihak sekolah, namun guru pengajar tahu bahwa Bagas adalah penyandang epilepsi.

Tetangga rumahnya pun mengetahui dan menerima bahwa Bagas adalah penyandang epilepsi. Beruntungnya, Bagas tidak pernah mendapatkan perlakukan diskriminatif di lingkungan rumah maupun sekolahnya.

"Tetangga tahu, malah kalau Bagas kambuh saat lagi main tetangga saya yang suka bawa pulang," tutup Maripah.

Kepatuhan dalam mengkonsumsi obat anti epilepsi menjadi sangat penting guna mengontrol serangan epilepsi. Pada penyandang epilepsi anak, peranan orangtua dalam pengobatan epilepsi menjadi sangat penting karena ketidakpatuhan terhadap pengobatan epilepsi dapat memperparah penyakit epilepsi itu sendiri.

“Serangan kejang yang sering berulang akibat ketidakpatuhan minum obat akan menyebabkan jaringan otak yang tidak rusak menjadi rusak sehingga dapat menyulitkan terapi epilepsi, bahkan menimbulkan risiko yang membahayakan keselamatan pasien epilepsi. Oleh karena itu, orangtua wajib memperhatikan kedisiplinan anak dalam mengkonsumsi obat anti epilepsi,” jelas dr Irawan Mangunatmadja, SpA (K), dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM.

Menurut dr Irawan, anak yang masih mempunyai plastisitas otak yang baik, akan berusaha memperbaiki kerusakan jaringan yang ada. Apabila serangan kejang masih terjadi, plastisitas otak tidak bisa bekerja dengan baik, sehingga kerusakan jaringan semakin nyata.




(mer/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads