Dikira Stres Ujian Ternyata Sekarat Akibat Kanker

Dikira Stres Ujian Ternyata Sekarat Akibat Kanker

- detikHealth
Selasa, 15 Mei 2012 11:31 WIB
Dikira Stres Ujian Ternyata Sekarat Akibat Kanker
Natalie Smith (dok: Mirror.co.uk)
Jakarta - Awalnya dokter mengira kondisi yang dialami Natalie Smith dikarenakan stres ujian. Namun setelah berkali-kali konsultasi ke dokter diketahui bahwa ia memiliki kanker yang menggerogoti tubuhnya.

Saat sekolah Natalie dibawa ke rumah sakit dan dokter memberitahu kemungkinan kondisinya disebabkan oleh stres akibat ujian GCSE (General Certificate of Secondary Education). Namun sang ibu merasa ada sesuatu yang serius di diri anaknya, setelah 7 kali mengunjungi dokter diketahui bahwa Natalie tengah sekarat akibat kanker.

Selama 18 bulan Natalie menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah sakit untuk melakukan pengobatan dan bertempur melawan Rhadomyosarcoma (kanker jaringan lunak) yang menggerogoti jaringan tubuh dan hampir di setiap tulangnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Natalie pun harus menjalani kemoterapi, menderita akibat infeksi yang tak terhitung lagi jumlahnya serta menjalani operasi untuk memperbaiki tulang belakangnya yang rusak. Namun ternyata ia tidak bisa bertahan dan meninggal saat berusia 17 tahun sambil menggenggam boneka favoritnya.

"Dia sangat berani dan selalu berusaha tersenyum sepanjang hari, bahkan ketika ia merasa kesakitan. Dia seperti seorang pejuang," ujar sang ibu Rachael, seperti dikutip dari Mirror.co.uk, Selasa (15/5/2012).

Natalie merasakan gejala pertamanya pada Desember 2009 karena mengeluh nyeri pinggul. Namun hasil 2 kali pemeriksaan X-ray tidak menunjukkan apa-apa sehingga ia hanya diberikan obat anti-inflamasi.

Beberapa bulan berikutnya ia mengeluh otot-ototnya terasa sakit dan sulit bernapas saat pergi ke sekolah. Hingga pada April 2010 payudaranya mengeluarkan cairan yang membuat Rachael panik dan takut anaknya terkena kanker.

"Saya diberitahu dokter bahwa anak-anak terlalu muda untuk kena kanker payudara dan ini hanya akibat dari hormon 'pertumbuhan'. Saya selalu berbicara dengan dokter yang berbeda-beda, tapi tidak ada yang merasa ini masalah serius," ungkapnya.

Pada bulan Mei 2010 saat Natalie memasuki hari pertama ujian, ia benar-benar kesakitan sepanjang hari. Ia pun dibawa ke rumah sakit dan dokter hanya meresepkan obat untuk menekan rasa stres akibat mau ujian.

Namun kondisi Natalie terus memburuk hingga akhirnya ia berkonsultasi dengan dokter berbeda dan diminta melakukan tes darah serta pemeriksaan darurat termasuk CT scan. Hasil yang didapatkan sangat mengejutkan Rachael dan suami Christopher yang ternyata diketahui Natalie memiliki kanker.

"Sel kanker ini memakan tulang-tulangnya dan membuat lubang besar yang memicu rasa sakit. Kondisi ini telah memakan sebagian besar tulang punggungnya, dan menyebar ke paru-paru, ginjal, kelenjar getah bening. Kami semua merasa terpukul, kaget dan seperti mati rasa," ungkap Rachael.

Natalie terpaksa dipindahkan ke Nott­ingham ­Children’s Hospital yang mana diketahui ia memiliki kanker jaringan lunak Rhabdomyosarcoma stadium 4 atau akhir dengan kemungkinan hidup rendah. Pada Januari 2011 setelah kemoterapi ada secercah harapan ketika hasil scan menunjukkan kanker sudah hilang, tapi sayang 2 bulan kemudian muncul kembali.

Rachael menyadari Natalie tidak akan hidup lama, karena itu keluarganya selalu berkumpul merawat termasuk sang kakak Lucas. Namun setiap hari kondisi Natalie semakin lemah dan napasnya berubah.

"Kami mencoba memberinya oksigen, tapi beberapa bagian tubuhnya sudah menutup hingga akhirnya kehidupannya telah berakhir. Ia meninggal di tempat yang diinginkannya yaitu di rumah dan lingkungannya sendiri sambil memeluk boneka Happy Feet favoritnya," ujar Rachael.


(ver/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads