Karena merasa diacuhkan saat mengalami penis berdiri yang menyakitkan, pria asal Massachusetts menggugat Yale-New Haven Hospital. Dengan alasan staf perawatan kesehatan di rumah sakit tersebut terlalu asik menonton televisi tanpa mempedulikan pasien.
Menurut The Associated Press, Scott menderita kondisi yang dikenal sebagai priapism, sakit langka yang menyebabkan penis tetap tegak selama lebih dari 4 jam pada suatu waktu, tanpa adanya rangsangan psikologis atau fisik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Staf pelayanan rumah sakit mengatakan kepada Scott untuk menunggu penanganan di ruang tunggu, sementara para staff sedang menonton pertandingan bisbol di televisi.
Scott menggugat pihak rumah sakit sebanyak US$ 2 juta atau Rp 19 miliar karena kurang tanggapnya pelayanan di rumah sakit tersebut.
"Yale-New Haven Hospital membantah tuduhan itu dan akan mempertahankan posisinya di pengadilan," kata juru bicara rumah sakit Robert Hutchinson, seperti dilansir dari abcnews, Rabu (6/6/2012)
Jika tidak diobati, priapism dapat menghasilkan disfungsi ereksi yang parah. Untuk mengatasi kondisi tersebut, biasanya dilakukan aspirasi darah dari penis dan menanamkan fenilefrin encer pada penis.
Hal ini paling sering terjadi pada anak laki-laki usia 5-10 tahun dan orang dewasa usia 20-50 tahun. Priapism juga terkait dengan penyakit anemia, luka pada alat kelamin dan leukemia.
"Fenilefrin encer digunakan untuk meredakan ketidaknyamanan pada hidung yang disebabkan oleh pilek dan alergi. Jika obat ini gagal digunakan untuk mengurangi ereksi, maka akan ditempuh operasi yang sesuai," kata kata Dr. Michael O'Leary, senior ahli bedah urologi di Brigham and Women’s Hospital di Boston.
Scott mengatakan dirinya dipaksa menunggu selama 5 jam sebelum mendapatkan penanganan. Scott akhirnya menjalani operasi, tetapi tidak berhasil dan dirinya tetap merasakan sakit selama berbulan-bulan.
(ir/ir)











































