Rollercoaster Selamatkan Nyawa Gadis ini dari Tumor Otak Ganas

Rollercoaster Selamatkan Nyawa Gadis ini dari Tumor Otak Ganas

- detikHealth
Senin, 11 Jun 2012 14:32 WIB
Rollercoaster Selamatkan Nyawa Gadis ini dari Tumor Otak Ganas
Emma Basset (Foto: Daily Mail)
Jakarta - Ketika berusia 12 tahun, Emma Basset sering mengalami sakit kepala parah. Sehari sebelum memeriksakan diri ke dokter, ia mengunjungi taman bermain dan naik rollercoaster. Ternyata, tindakannya ini menyelamatkan nyawanya dari serangan tumor otak ganas seukuran jeruk mandarin di dalam kepalanya.

Ketika ke rumah sakit keesokan harinya, dokter mengatakan bahwa Emma memiliki tumor yang sangat besar sehingga menyumbat cairan otaknya. Dokter mengatakan bahwa tumor tersebut telah mulai muncul sejak usia 6 tahun dan Emma hanya bisa bertahan hidup beberapa jam ke depan. Rollercoaster berhasil menyingkirkan penumpukan cairan di otaknya dan secara singkat mendistribusikan cairan otaknya.

Setelah cairan otaknya lancar, Emma segera menjalani operasi. Meskipun demikian, dokter memperingatkan bahwa operasi ini bisa membuatnya lumpuh. Untungnya, nasib masih berpihak kepada Emma. Setelah 8 tahun, Emma berhasil sembuh total tanpa adanya kelainan yang berarti.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kini, Emma yang berasal dari Twickenham di London barat ini sudah berusia 20 tahun. Ia telah belajar berjalan dan berbicara lagi serta ingin bekerja sebagai guru sekolah dasar.

"Sungguh mengejutkan ketika mengetahui bahwa saya punya tumor yang tumbuh selama bertahun-tahun tanpa saya sadari. Para dokter mengatakan kepada orangtua saya bahwa saya memerlukan perawatan selama 24 jam penuh karena tumor berada di dekat batang otak. Dokter bedah mengatakan, mengangkat tumor tersebut dapat menyebabkan kerusakan yang tak dapat diperbaiki," kenang Emma seperti dilansir Daily Mail, Senin (11/6/2012).

Setelah menjalani operasi, Emma tidak bisa berjalan, berbicara bahkan menelan makanan. Namun ia bertekad untuk dapat berjalan lagi dan mengalahkan tumornya. Upayanya ini membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Selama 8 tahun terakhir, Emma belajar berjalan menggunakan tongkat penopang. Dia juga harus mengenakan sol khusus yang dimasukkan ke dalam sepatu untuk membantunya berjalan.

Saat ini, hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan tidak ada lagi tanda-tanda tumor di dalam tubuhnya. Satu-satunya sisa pengobatan tumor adalah sedikit kelumpuhan pada sisi kiri wajahnya.

"Saya menjalani banyak hidroterapi, fisioterapi, dan terapi wicara agar bisa seperti sekarang. Para dokter tidak pernah menduga saya bisa pulih seperti sekarang ini," kata Emma.

Kini, Emma bekerjasama dengan Samantha Dickson Brain Tumour Trust untuk mengkampanyekan program HeadSmart yang bertujuan meningkatkan kesadaran tentang bagaimana menemukan tanda-tanda awal tumor otak, terutama pada anak-anak.
 
 
 
 
(pah/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads