Kebablasan, Usai Melawan Obesitas Kini Bertempur dengan Anoreksia

Kebablasan, Usai Melawan Obesitas Kini Bertempur dengan Anoreksia

Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jumat, 24 Agu 2012 12:03 WIB
Kebablasan, Usai Melawan Obesitas Kini Bertempur dengan Anoreksia
Malissa Jones (dok. mirror.co.uk)
York, Inggris - Usianya masih tergolong muda, baru 22 tahun. Tapi Malissa Jones sudah mengalami dua gangguan makan sekaligus. Tadinya ia memiliki tubuh yang super gemuk, setelah menjalani operasi lambung tubuhnya malah jadi kurus kering karena menderita anoreksia.

Saat remaja, berat badan Malissa Jones (22 tahun) pernah mencapai 216 kg (34 stone). Dengan angka di timbangannya tersebut, ia bahkan pernah dijuluki sebagai remaja tergemuk di Inggris.

Kondisi tersebut sebenarnya tidak terlalu mengherankan karena saat itu Malissa bisa menghabiskan makanan yang mengandung 15.000 kalori dalam sehari. Padahal, untuk remaja seusianya, asupan yang rekomendasikan hanyalah 2.500 hingga 3.000 kalori per hari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengalami kebiasaan malam yang aneh, yaitu makan burger defrosted (burger beku yang kemudian dilelehkan) dan chicken nugget dari freezer.

Di usia 17 tahun, gadis yang memiliki tinggi badan 172 cm ini sudah memiliki ukuran pakaian 30 dan BMI (indeks massa tubuh) 72,4. Ukuran tubuhnya dua kali lebih besar jika dibandingkan teman-teman seusianya.

Karena begitu gemuk, Malissa didiagnosa dengan angina, yaitu suatu bentuk penyakit koroner yang biasanya hanya diderita oleh orang tua.

Pada malam hari, ia harus mengenakan masker oksigen untuk membantu pernapasannya ketika berbaring. Lemak berlimpah di tubuhnya bisa saja menghancurkan organ-organ internal di tubuhnya.

"Saya bisa makan 15.000 kalori per hari, makan 8 cokelat Mars bars ukuran besar, 10 bungkus keripik, sandwich ham dan memesan makanan untuk makan siang dan teh," kenang Malissa Jones, seperti dilansir Mirror.co.uk, Jumat (24/8/2012).

Sang bunda Dawn (47 tahun) sangat prihatin melihat kondisi putrinya. Ia berusaha membantu mengekang nafsu makan Malissa. Tapi semua usaha diet, pil pelangsing dan konseling tampaknya tidak berhasil. Tanpa intervensi yang tepat, dokter mengatakan Malissa mungkin tidak akan bisa bertahan hidup hingga usia 18 tahun.

Pada Januari 2008, Malissa akhirnya mengambil tindakan yang berisiko yaitu operasi bypass lambung. Ini merupakan usaha terakhir untuk menyelamatkan hidupnya.

Tidak seperti band lambung yang kemudian bisa dilepas, operasi bypass lambung merupakan operasi ireversibel (tak bisa dibalikkan). Setelah operasi selama 6 jam, ukuran perutnya menjadi lebih kecil dan memotong sistem pencernaannya sehingga makanan tidak akan mudah diserap.

Setelah seminggu, pulang dari rumah sakit di York, Inggris, ia sudah diperbolehkan pulang, menjalani diet cair selama tiga bulan pertama. Alhasil, berat badannya pun turun.

Pada awalnya, Malissa menyukai bentuk baru tubuhnya. Turun lebih dari 12 kg dalam sebulan, pada Maret 2009 berat badan Malissa sudah turun 139,7 kg. Berat badannya hanya tinggal 76,2 kg dengan ukuran pakaian 16. Tapi ada efek pada penurunan berat badannya yang begitu cepat.

"Tidak ada yang mengingatkan saya bagaimana lipatan lemak menjadi kendor dan ekstra kulit yang jelek akan terlihat. Rasa percaya diri saya menurun drastis untuk waktu yang lama, meskipun tidak ada orang yang pernah mengkritik. Saya terlalu malu untuk membiarkan orang melihat saya telanjang," jelasnya.

Pada Juni 2010, hal-hal lain mulai terlihat ketika Malissa mulai berkencan dengan Chris. Malissa hamil. Saat itulah, benih-benih anoreksi mulai ditaburkan.

Kombinasi morning sickness dan khawatir berat badannya naik pada saat kehamilannya membuat Malissa jadi takut untuk makan. Ia memaksa makan dan minum dengan baik demi bayinya, tapi pada minggu ke-27 tubuhnya kolaps karena dehidrasi.

Sistem kekebalan tubuhnya begitu rendah dan membuatnya menderita septikemia (terdapat bakteri di dalam darah). Ia harus dilarikan ke rumah sakit untuk operasi darurat caesar untuk menyelamatkan tak hanya bayinya yang belum lahir tetapi juga dirinya sendiri. Sayangnya, sang bayi meninggal hanya 57 menit setelah dilahirkan.

Setelah melahirkan, karena sedih ia pun belum mau makan. Tubuhnya semakin kurus kering. Berat badannya turun drastis hingga hanya 35 kg.

Berat badan Malissa begitu kurus dan parah selama beberapa bulan berikutnya. Ia bahkan pingsan beberapa kali dan dokter mendiagnosisnya dengan anoreksia. Ia juga hanya makan 500 kalori per hari, jauh berbeda dengan kondisinya saat obesitas.

Tapi berkat bantuan Chris, dia berjuang melawan gangguan makannya. Kali ini bukan obesitas melainkan anoreksia. Ia bahkan berhenti dari pekerjaannya untuk menjadi penjaga Malissa secara full-time.

"Dengan bantuan Chris, saya mulai makan roti panggang untuk sarapan, yoghurt dengan buah untuk makan siang dan makan sehat daging dan sayuran untuk minum teh," jelas Malissa.

Kini berat badan Malissa sudah berangsur normal. Bahkan ia terlihat cantik dengan balutan gaun pengantin bersama pasangannya Chris.



(mer/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads