Seperti diketahui tingkat kesembuhan kanker dipengaruhi oleh seberapa cepat penyakit tersebut dideteksi. Namun sayangnya pada kasus tertentu butuh waktu lama untuk mengetahuinya, bahkan kadang harus terlebih dahulu didiagnosis penyakit yang lain.
Berikut ini 3 kisah orang-orang yang harus bolak balik rumah sakit hingga akhirnya didiagnosis kanker, seperti dikutip dari Mirror.co.uk, Kamis (16/10/2012) yaitu:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan dosen, Sally Jenkins (61 tahun) menderita masalah pencernaan kronis selama 2 tahun sebelum akhirnya didiagnosis dengan NET (Neuroendocrine tumours). Sebelumnya ia pernah melakukan segala macam tes, seperti tes alergi, tes untuk penyakit Crohn dan radang perut.
Saat itu dokter tahu ada masalah, tapi tidak menemukan penyebabnya. Hingga akhirnya sebuah tes hormon berhasil mendeteksi adanya tumor di sistem pencernaannya. Operasi pun dilakukan untuk menghapus sebagian besar organ pencernaan dan menerima suntikan setiap bulan agar tumornya tidak kembali.
"Dokter menyadari bahwa ini jenis kanker, tapi tumor ini terbilang jahat. Saya berharap, jika hal ini bisa diketahui sejak tahun lalu mungkin itu bisa menyelamatkan saya dari penderitaan. Tapi yang penting adalah meningkatkan kesadaran dari semua gejala kanker," ujar Sally.
2. Dokter mengatakan ada gangguan usus, tak tahunya kanker
Selama 5 tahun Jo Green (35 tahun) menderita kelelahan, diare serta kram, dan dokter mengatakan ia memiliki gangguan usus irritable bowel syndrome (IBS). Sekitar November 2010 ia mengembangkan rasa sakit di bawah tulang dadanya dan dokter mengatakan gastroenteritis.
Tapi kondisi ini terjadi lagi beberapa bulan kemudian hingga akhirnya ia dirujuk. Hasil pemeriksaan colonoscopy menunjukkan ia memiliki tumor neuroendocrine di dalam ususnya.
Dokter menjelaskan kanker ini telah tumbuh dan menyebar dari usus ke rongga perut, kandung kemih bagian atas dan kelenjar getah bening. Meski tidak bisa disembuhkan, tapi bisa dikelola dengan baik.
Jo pun menjalani operasi selama 8 jam untuk mengangkat tumornya, dan tetap menerima pengobatan. Kini ia harus menjaga tubuhnya tetap fit agar tetap bisa melawan penyakit kankernya, meski tidak tahu hingga berapa lama.
"Awalnya saya merasa terkejut bahwa hidup saya tidak akan pernah kembali normal, saya pikir saya akan mati. Tapi sisi positifnya, saya jadi menghargai kehidupan lebih baik lagi, dan berusaha menyadarkan orang-orang tentang penyakit kanker," ujar Jo.
3. Menyakinkan dokter bahwa anaknya sakit melalui video
Ruby berkali-kali ke rumah sakit dan dokter selalu mengatakan bahwa ia baik-baik saja hingga akhirnya disuruh pulang ke rumah. Namun naluri Catherine sebagai seorang ibu mengatakan bahwa ada yang tidak beres dengan kondisi putrinya.
Hingga suatu hari ketika ia tengah minum teh bersama Ruby, putri kecilnya ini hampir tidak bisa memegang sendok. Seketika Catherine langsung mengambil ponselnya dan merekam kejadian tersebut sebagai bukti ke dokter.
Keesokan harinya, Catherine dan suami Tapera (32 tahun) menunjukkan video tersebut pada dokter, dan diputuskan untuk melakukan pemeriksaan CAT scan. Hasilnya diketahui ia memiliki tumor di otaknya dan harus segera menjalani operasi untuk mengurangi tekanan di otaknya.
"Letaknya sangat dekat dengan batang otak dan jantungnya bisa berhenti kapan saja. Jika saja saya tidak merekamnya, mungkin akan disarankan untuk rawat jalan lagi dan dia akan meninggal," ujar Catherine.
Setelah menjalani operasi selama 6 jam untuk mengangkat tumor dan hasil biopsi menunjukkan tumor tersebut stadium 4 dan disebut dengan medullablastoma. Kini Ruby harus menjalani kemoterapi yang melelahkan, namun Catherine bersyukur putrinya masih hidup.
"Harus ada kesadaran lebih mengenai tumor otak, karena hanya sebagian kecil orang yang mengetahui gejalanya. Sebagai orangtua saya mengkhawatirkan keterampilan para dokter dalam melihat gejala yang ada," pungkas Catherine.
(ver/up)











































