Pria Ini Sengaja Dibikin Serangan Jantung agar Tak Meninggal

Pria Ini Sengaja Dibikin Serangan Jantung agar Tak Meninggal

Merry Wahyuningsih - detikHealth
Kamis, 27 Des 2012 08:39 WIB
Pria Ini Sengaja Dibikin Serangan Jantung agar Tak Meninggal
Ronald Aldom (Foto: swns)
Bristol, Inggris - Serangan jantung ibarat 'malaikat pencambut nyawa' yang bisa membuat penderitanya meninggal secara mendadak. Namun seorang dokter malah sengaja membuat pasiennya mengalami serangan jantung untuk menyelamatkan nyawanya. Bagaimana bisa?

Ronald Aldom (77 tahun) menderita gangguan irama jantung yang mengancam nyawa, yang disebut ventricular tachycardia (VT). Kondisi ini terjadi akibat serangan jantung yang terjadi sebelumnya.

Aldom bisa meninggal bila tak segera mendapat pertolongan dokter. Namun dokter mengatakan prosedur standar tak aman dilakukan pada jantungnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk menyelamatkan hidupnya, dokter pun akhirnya menggunakan pengobatan langka yang memicu serangan jantung terkendali, yaitu dengan sengaja menyuntikkan alkohol khusus ke jantungnya.

Tim yang dipimpin oleh ahli jantung Dr Tom Johnson ini memutuskan untuk menyuntik jantung Aldom dengan 'ethanol ablation (ablasi etanol)'. Menurut Dr Johnson, pengobatan ini hanya dilakukan beberapa kali di Inggris.

Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan kateter ke jantung dari pangkal paha untuk mengidentifikasi asal dari irama jantung yang berbahaya. Sebuah 'balon' kecil kemudian dibuat di arteri jantung dan sejumlah kecil alkohol absolut disuntikkan ke arteri untuk menghasilkan serangan jantung kecil yang terkendali.

Cara ini akan membunuh daerah dari otot jantung yang menyebabkan masalah, yang diharapkan dapat membuat irama jantung kembali normal.

"Aldom datang beberapa bulan yang lalu dengan gangguan irama jantung yang mengancam jiwa, VT, yang terkait dengan kerusakan bekas luka jantung yang berhubungan dengan serangan jantung sebelumnya," jelas Dr Johnson, yang merupakan seorang ahli intervensi jantung, seperti dilansir Dailymail, Kamis (27/12/2012).

Dr Johnson mengatakan tim medis berusaha untuk mengobati detak jantung yang tidak teratur pada tubuh Aldom dengan obat-obatan dan 'ablasi listrik' untuk mencoba dan membakar atau membunuh daerah otot yang menghasilkan detak jantung tidak teratur. Tapi mereka tidak dapat melakukan prosedur tersebut, sehingga memutuskan untuk melakukan ablasi etanol.

Dr Johnson sebelumnya telah melakukan prosedur ini untuk pasien dengan Hypertrophic cardiomyopathy, yakni suatu kondisi di mana otot jantung menjadi tebal. Tapi prosedur yang masih jarang ini baru pertama kali digunakan untuk mengobati VT.

"Pasien melakukannya dengan sangat baik dan (kondisinya) jauh lebih baik. Dia tidak akan meninggalkan rumah sakit kecuali sesuatu (pertolongan) dilakukan. Tidak ada pilihan lain," tutur Dr Johnson.

Tiga hari setelah prosedur ini, Aldom pun sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit dan kembali ke rumahnya di Portishead, dekat Bristol, Inggris.

(mer/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads