Aneh, Bukan Musim Dingin Tapi Bisa Lihat Salju Gara-gara Migrain

Aneh, Bukan Musim Dingin Tapi Bisa Lihat Salju Gara-gara Migrain

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Selasa, 29 Jan 2013 18:02 WIB
Aneh, Bukan Musim Dingin Tapi Bisa Lihat Salju Gara-gara Migrain
Brookes Chloe (Foto: Daily Mail)
London - Di negara dengan 4 musim, salju hanya muncul pada bulan-bulan tertentu di musim dingin. Tapi lain halnya dengan Brookes Chloe yang bisa melihat saju hampir setiap hari. Penyebabnya bukan karena global warming, tapi karena migrain.

Sudah beberapa tahun ini Brookes Chloe (33 Tahun) bisa melihat salju selain di musim dingin. Wanita yang tinggal di London ini melihat segala sesuatu seolah tertutup kabut dan salju. Senang? Tentu tidak, Chloe tersiksa dengan gangguan ini.

"Kabut ada di depan mata saya. Warnanya bukan putih terang, tapi lebih abu-abu seperti salju yang kotor. Saya melihatnya ketika berjalan keluar, juga masih ada ketika menutup mata. Saya bahkan tidak bisa beristirahat," kata Chloe seperti dikutip dari Daily Mail, Selasa (29/1/2013).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak berusia 21 tahun, Chloe menderita migrain kronis yang memicu gangguan penglihatan. Awalnya penglihatannya berkabut setiap beberapa hari, namun gejalanya memburuk sampai muncul 3 kali dalam seminggu. Dia juga hampir tak bisa bergerak karena migrainnya.

Setelah 5 bulan, gangguan penglihatan yang dialami menetap dan muncul walau tanpa disertai migrain. Penasaran, dia bolak-balik mengunjungi dokter umum selama 2 bulan tapi tidak banyak membantu. Dia pun dirujuk ke dokter saraf dan didiagnosis mengidap migrain aura yang menyebabkan gangguan visual permanen.

"Ini menyedihkan. Saya bangun di pagi hari dan melihat dinding seolah-olah bergerak. Saya seolah-olah melihat melalui lapisan bermotif. Saya juga mengalami pusing yang konstan, rasanya seperti yang terjadi di kepala apabila terburu-buru berdiri terlalu cepat," kata Chloe.

Sampai kini, para dokter tidak mengetahui apa penyebab migrain aura yang menyerang Chloe, bahkan penyebab migrain sendiri saja masih memicu banyak perdebatan. Chloe sudah diobati dengan berbagai obat migren, tapi khasiatnya nihil.

"Pasien yang mengeluhkan gangguan permanen sering dididiagnosis dengan aura migrain terus-menerus. Tetapi karena kita tidak banyak tahu tentang kondisi ini, kami hanya bisa berhipotesis," kata Dr Mark Weatherall, ahli saraf di Charing Cross Hospital, London.

Dr Weatherall memberikan Chloe kombinasi obat epilepsi pregabalin dan anti depresan nortriptyline. Chloe meminum obat tersebut selama 18 bulan terakhir. Hasilnya cukup banyak membantu, namun dia masih sering mendapati penglihatanya bersalju sekitar sebulan sekali.

"Itu berlangsung selama beberapa hari, kadang-kadang disertai sakit kepala parah. Tampaknya dipicu oleh cahaya atau lampu buatan. Bos saya di tempat kerja telah memaklumi dan menempatkan saya di sudut gelap. Walau masih mengerikan, tapi setidaknya saya tahu itu hanya sementara," kata Chloe.

(pah/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads