Kondisi ini terjadi pada pasangan ibu dan anak asal Sutton Coldfield, Birmingham, Inggris ini. Sang ibu, Christina Jones (55) didiagnosis mengidap kanker limfoma Hodgkin pada tahun 1982 atau saat usianya menginjak 24 tahun.
Beberapa tahun kemudian Christina berhasil sembuh dari penyakitnya meski kata dokter ia tak bisa mempunyai keturunan. Namun pada tahun 1988, ia berhasil melahirkan putri tunggalnya, Philippa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tak percaya jika Philippa juga bisa mengidap penyakit yang sama dengan saya persis di usia yang sama, terutama karena tampaknya riwayat keluarga tidaklah memainkan peranan penting dalam penyakit ini," tutur Christina.
Kendati bisa saja risiko kanker muncul jika kerabat dekat mengidap kondisi yang sama, namun tak pernah diketahui apakah gen atau gaya hidup yang sama yang berperan penting di balik hal itu.
Saat muda, Christina mengaku mengetahui ada yang salah dengan dirinya ketika ia menemukan sebuah benjolan di salah satu sisi lehernya.
"Dalam semalam, sebuah benjolan muncul tapi saya kira itu bukan apa-apa jadi saya membiarkan selama dua mingguan. Namun benjolan itu tak kunjung hilang dan sama sekali tak terasa sakit yang menunjukkan bahwa itu adalah gejala utama dari Hodgkin," kisah Christina seperti dilansir Daily Mail, Selasa (28/5/2013).
Hingga akhirnya Christina menemui seorang dokter yang mengirimnya untuk melakukan tes darah. Dan benar saja, sampel darah Christina memperlihatkan adanya abnormalitas dan setelah dibiopsi dipastikan bahwa Christina mengidap kanker. Beruntung kanker tersebut masih berada pada stadium awal, antara stadium dua dan tiga.
Tapi Christina mengaku tak begitu khawatir dengan hasil diagnosisnya karena di tahun 1980-an, orang-orang kurang begitu aware dengan adanya peluang terserang kanker.
"Di masa lalu Anda hanya harus bertahan dengan penyakit itu dan kurang adanya dukungan dari banyak orang. Bahkan sejujurnya, saya perlu dijelaskan lebih lanjut apa itu limfoma dan diberitahu bahwa ini adalah sejenis kanker darah karena di masa lalu penyakit ini tak begitu banyak diketahui orang," ujar Christina.
"Saya sendiri orang yang optimis dan saya hanya tidak terlalu ambil pusing dengan kondisi ini," tambahnya.
Setelah itu, Christina menjalani radioterapi selama empat minggu. "Waktu itu rasanya sangat berat. Saya terus-menerus mual dan tentu saja di dalam mulut saya terasa tak keruan akibat radiasi," katanya.
Beberapa saat kemudian, Christina pun dinyatakan sembuh dan hidup sehat setelahnya. Hingga akhirnya pada tahun 2011, Christina lupa seperti apa kanker yang dialaminya dulu sehingga ketika putrinya, Philippa mulai memperlihatkan gejala yang sama, ia tak mengira itu adalah gejala kanker yang pernah dialaminya tiga dekade lalu.
"Benjolan saya lebih kecil dari punya Mama dan tidak tumbuh secepat beliau, jadi tak ada satupun dari kami yang mengira ini adalah awal dari penyakit yang sama," timpal Philippa.
Lama-kelamaan gejalanya makin memburuk dan berat badan Philippa mulai menurun, sering berkeringat di malam hari hingga nyeri perut. Di kemudian hari, tim dokter menemukan bahwa nyeri perut itu disebabkan oleh pembesaran limpa.
Lalu dokter mengirimnya untuk menjalani scan ultrasound tapi karena mereka tak menganggap hal ini urgent, Philippa tak kunjung mendapatkan hasilnya hingga satu bulan kemudian.
Ketika hasil scan-nya keluar pada bulan Agustus 2011, Philippa menemukan satu benjolan lagi di bawah ketiaknya. Saat itu juga Philippa langsung menjalani biopsi dan diberitahu bahwa ia menderita limfoma Hodgkin dalam kurun waktu 24 jam.
"Aneh saja ketika saya diberitahu berita yang sama tapi tidak merasa panik. Saya sempat menangis, namun saya begitu lega mengetahui bahwa saya tak sendiri karena Mama pernah mengalami hal yang sama sebelumnya," kata gadis yang berusia 25 tahun ini.
Ternyata limfoma yang diidap Philippa memang lebih parah daripada sang Mama dan ketika didiagnosis, penyakitnya telah mencapai stadium antara tiga dan empat.
Philippa pun dirawat di Heartlands Hospital, Bordesley Green, Birmingham, Inggris serta menjalani radioterapi dan enam tahapan kemoterapi. Setelah dinyatakan remisi pada bulan Januari 2012, satu bulan setelahnya Philippa dinyatakan sembuh total dan bersih dari limfoma.
"Ini adalah kisah yang menakjubkan mengingat risiko dua kerabat yang berdekatan untuk mengidap kanker ini sangatlah rendah," tandas Martin Ledwick dari Cancer Research UK, menanggapi kisah ibu dan anak ini.











































