Serangan Stroke Membuat Mantan Napi Menjelma Jadi Seniman

Serangan Stroke Membuat Mantan Napi Menjelma Jadi Seniman

- detikHealth
Selasa, 28 Mei 2013 18:04 WIB
Serangan Stroke Membuat Mantan Napi Menjelma Jadi Seniman
Tommy McHugh (foto: Newscientist)
London - Pengalaman-pengalaman berharga dalam kehidupan bisa membuat orang berubah, baik pandangan hidupnya atau malah kepribadiannya. Bagi Tommy McHugh, pengalaman itu adalah penyakitnya. Mantan narapidana ini berubah menjadi seniman setelah selamat dari stroke.

Sepuluh hari setelah mengalami perdarahan subarachnoid, yaitu stroke yang disebabkan oleh pendarahan di dalam dan sekitar otak, Tommy yang akrab dengan dunia kriminal terlahir menjadi manusia baru. Tiba-tiba dia memiliki dorongan yang kuat untuk melukis setiap hari, juga melantunkan puisi.

"Saya sedang duduk di toilet. Tiba-tiba saya merasakan ledakan di sisi kiri kepala dan tersungkur di lantai. Satu-satunya hal yang membuat saya sadar adalah tak ingin ditemukan dengan kondisi celana melorot. Kemudian sisi lain kepala saya terasa meledak. Saya terbangun di rumah sakit," kenang Tommy seperti dilansir Newscientist, Selasa (28/5/2013).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peristiwa itu dialami Tommy ketika berusia 51 tahun. Sejak saat itu, dia yang semasa mudanya pernah mendekam di penjara ini bisa merasakan sisi feminim dalam dirinya. Kepalanya penuh dengan sajak dan gambar-gambar. Dia lantas sibuk menulis puisi dan melukis hingga 19 jam tiap hari.

"Saya tidak pernah (berjiwa) artistik sebelumnya. Pada kenyataannya, saya bahkan tidak pernah berada di sebuah galeri seni, kecuali mungkin untuk mencuri sesuatu," candanya.

Bingung dengan apa yang terjadi dengan dirinya, Tommy menulis kepada beberapa ahli saraf di Inggris. Rasa penasarannya terjawab lewat surat balasan dari Alice Flaherty di Harvard Medical School dan Mark Lythgoe di University College London.

Menurut Flaherty, perdarahan mungkin membuat darah mengalir ke seluruh permukaan otak dan mempengaruhi berbagai daerah di dalamnya. Kecelakaan tersebut membuat Tommy jadi lebih emosional dan tidak tega menyakiti siapa pun. Layaknya biarawan Zen, segala hal yang dia lihat dan rasakan jadi terasa indah dan bermakna.

Untuk mengobati stroke yang sempat menyerang Tommy, dokter mananamkan sepotong logam di kepalanya. Hal ini membuat dokter tidak bisa melakukan scan otak untuk memeriksa kepala Tommy. Oleh karena itu, Lythgoe melakukan pemeriksaaan neuropsikologis.

Hasilnya menunjukkan IQ Tommy berada dalam kisaran normal. Namun dia menunjukkan dorongan untuk banyak berbicara dan mengalami kesulitan dalam tes yang mengharuskan untuk beralih di antara tugas-tugas kognitif yang berbeda. Hal ini menunjukkan adanya masalah dengan bagian otak yang bernama lobus frontal.

Lobus frontal berperan penting dalam pemikiran abstrak dan kreativitas. Otak setiap hari terus dibombardir oleh data indrawi dari lingkungan yang sebagian besar dianggap tidak relevan dan disaring oleh kesadaran. Apabila prose ini dihambat, dampaknya dapat membuat orang jadi lebih kreatif.

"Itulah yang ada dalam pikiran Tommy sepanjang waktu. Segala sesuatu yang ia dengar dan lihat memicu asosiasi yang sulit dihentikan. Tommy melihatnya sebagai proses otak yang tak berujung. Dia mengatakan lukisannya mewakili cuplikan dari berbagai gambaran tiap milidetik di otaknya," kata Lythgoe.

Karena perubahan ini, Tommy bisa melukis 3 - 9 gambar pada suatu waktu. Karena kanvas terlalu mahal, dia mulai melukis di langit-langit, tembok dan lantai. Tak puas dengan melukis, dia mulai membuat patung. Jika dia diberi sebatang pohon, dia akan mengubahnya menjadi bentuk wajah.

Pengalaman artistik ini terus memenuhi kepala Tommy selama 11 tahun sampai dia menghembuskan napas terakhir di tanggal 19 September 2012. Kini dia lebih dikenal sebagai seniman asal Inggris. Karya-karyanya bisa dilihat di website-nya, www.tommymchugh.co.uk.


(pah/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads