Terlahir dengan 'Kaki Katak', Si Kecil Emma Akhirnya Bisa Berjalan

Terlahir dengan 'Kaki Katak', Si Kecil Emma Akhirnya Bisa Berjalan

Merry Wahyuningsih - detikHealth
Selasa, 25 Jun 2013 11:29 WIB
Terlahir dengan Kaki Katak, Si Kecil Emma Akhirnya Bisa Berjalan
Emma-Grace Andrews (Foto: Daily Mail)
London - Sejak dalam kandungan, dokter memprediksi Emma tak bisa bertahan hidup karena kondisinya. Beruntung, ia bisa lahir dengan selamat meski dengan kondisi kaki dan tangan menyerupai katak.

Emma-Grace Andrews (5) terlahir dengan arthrogryposis, kondisi bawaan langka yang menyebabkannya lahir hampir tanpa otot di kaki dan lengan. Penyakit ini juga membuat lengan dan kakinya bengkok atau melengkung seperti katak.

Kondisi tersebut sebenarnya sudah terdiagnosa saat ia masih dalam kandungan. Pada usia kehamilan 20 minggu, hasil scan menunjukkan ada yang aneh di tubuh Emma. Dokter bahkan memprediksi bahwa ia tidak akan bertahan hidup dan disarankan untuk aborsi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun demikian, kedua orang tuanya, Rachel dan Alan, menolak aborsi dan masih menaruh harapan hidup pada calon putri mereka. Meski bisa selamat, dokter memberitahu Emma harus menggunakan kursi roda sepanjang hidupnya.

Seperti mendapatkan 'mukjizat', Emma yang kini berusia 5 tahun bisa berdiri sendiri dengan kaki lurus, setelah melakukan operasi untuk meregangkan otot-ototnya.

"Ketika dia lahir, tungkai kakinya melengkung dan telapaknya terbalik ke arah belakang. Dia tampak seperti katak kecil. Lengannya melengkung dan tangannya bengkok ke arah luar. Dia benar-benar cacat. Saya merasa tidak enak mengatakannya, tapi itu sangat mengganggu," ujar ibunya, Rachel Andrews (42), seperti dilansir Daily Mail, Selasa (25/6/2013).

Meski patah hati saat melihat putri kecilnya lahir, Rachel pernah berkata dengan lantang, "Putri saya akan berjalan, berlari dan menari. Dia akan melakukan segala hal yang dilakukan anak-anak lain."

Tapi yang diucapkan Rachel bukanlah hal yang mudah dilakukan Emma dengan 'kaki kataknya'. Rachel bahkan nyaris menyerah, yang artinya merelakan putrinya harus duduk di kursi roda sepanjang hidupnya.

Berbagai usaha telah dilakukannya. Di usia 5 minggu, dokter telah memasang gips di kaki Emma dalam upaya meluruskannya. Tapi hingga usia 3 tahun, usaha itu tampaknya tak membuahkan hasil. Emma pun dipindah ke London’s Great Ormond Street Hospital, di mana ia akhirnya menjalani operasi.

Emma dibalut gips dari pinggul hingga telapak kaki selama enam minggu, sebelum dokter memasang splint panjang di kakinya. Alat-alat ini dirancang untuk menjaga kakinya tetap lurus. Sayangnya, itu masih belum bisa membuatnya berjalan.

Emma merasa begitu tertekan setiap kali orang tua menempatkan splint di kakinya. Mereka hampir menyerah. Namun, ketika mencoba untuk terakhir kalinya, ia berhasil melakukan langkah pertamanya menggunakan bantuan anjing peliharaan sebagai dukungan. Dengan terus berlatih, Emma pun kini bisa berjalan sendiri tanpa bantuan.

"Dia berjalan ke sekolah setiap hari minggu lalu. Kami harus berangkat lebih pagi, tapi saya tidak peduli. Ini benar-benar luar biasa. Dia suka menunjukkan ke orang-orang bahwa ia dia melakukannya sekarang," ujar sang ibu girang.

Arthrogryposis multiplex congenita adalah istilah kolektif untuk sejumlah besar sindrom yang berbeda, yang ditandai dengan lekukan sendiri non-progresif yang terjadi pada saat lahir. Dengan kondisi ini, otot-otot di tungkai bayi cenderung sebagian atau seluruhnya digantikan oleh jaringan lemak dan berserat.

Kondisi ini mempengaruhi sekitar satu dari setiap 3.000 bayi dan biasanya dideteksi sebelum kelahiran. Pilihan pengobatan antara lain fisioterapi, splinting dan pembedahan.

(mer/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads