Selasa, 13 Agu 2013 12:12 WIB

Agar Tak Seperti Patung, Wanita Ini Harus Berendam Minyak 3 Jam

- detikHealth
Foto: Lorne Campbell
Jakarta - Beberapa orang hanya memerlukan peregangan tubuh sebentar guna mendapatkan tubuh yang bugar sepanjang hari. Namun tidak dengan wanita ini. Nicola Whitehill (40) harus menjalankan rutinitas pagi yang sangat rumit, dari berendam minyak parafin hingga mengolesi pelembab pada kulitnya. Semua ini ia lakukan selama tiga jam.

Dilansir Daily Mail, Selasa (13/8/2013), Nicola mengidap penyakit systemic sclerosis (scleroderma), yang berarti kulitnya dan pembuluh darahnya mengeras dan membatasi gerakannya. Ia mengatakan bahwa saat ia terbangun dari tidur, ia merasa seperti manusia timah dan kulitnya terasa sangat kaku, seperti terbuat dari kulit.

"Saya harus berendam di dalam cairan parafin dan kemudian mengolesi seluruh tubuh saya dengan krim, karena kalau tidak saya bahkan tidak dapat meluruskan lengan saya," ujar Nicola.

Tidak hanya itu wanita asal Southport, Merseyside, ini juga harus memakai sarung tangan terus menerus, karena tangannya akan membiru dan sakit jika masuk ke dalam kulkas. Ia juga harus menggunakan sepatu boots juga guna menjaga kakinya tetap hangat.

Selain systemic sclerosis, ia juga mengidap sindrom Raynaud, kondisi di mana pembuluh-pembuluh nadi terkecil yang membawa darah ke ujung-ujung jari tangan atau kaki terhambat ketika terpapar kondisi dingin atau sebuah gangguan emosional. Kedua penyakit ini berkaitan, dengan sedikit jumlah pasien yang menderita keduanya.

Nicola, yang merupakan seorang pengacara, didiagnosa pada tahun 1997 setelah beberapa tahun merasa tidak sehat dan kelelahan. Scleroderma, adalah sebuah kondisi anti-imun, hasil dari sebuah produksi kolagen berlebih, yang ditemukan dalam jaringan ikat.

Ini mempengaruhi kulit, pembuluh darah, dan sendi. Tapi terkadang juga bisa terjadi pada organ dalam seperti jantung, ginjal dan usus. Beruntungnya, Nicola belum terkena sejauh itu tapi ia menderita bisul yang timbul pada jari tangan dan kakinya. Perubahan temperatur dapat mempengaruhi gejalanya dan hal sederhana seperti angin dingin atau AC bisa mempengaruhinya.

"Saya hidup dengan menggunakan sarung tangan dan sepatu boots. Saat saya pergi keluar rumah, saya terlihat seperti orang Eskimo sepanjang tahun," katanya.

"Saya tidak bisa lagi berjalan dengan menggunakan sepatu biasa, tapi saya tetap harus bersyukur atas apa yang sudah saya miliki," tambah Nicola.

Karena penyakitnya yang semakin parah, ia harus berhenti kerja pada tahun 2004 dan kini dia menghabiskan waktunya dengan menjadi seorang relawan dengan Asosiasi Raynaud dan Scleroderma. Ia menikmati kesempatan untuk membantu pasien lainnya untuk memahami kondisi mereka, mengelolanya dengan baik dan menjalani hidupnya.

"Tidak ada kesadaran yang cukup di luar sana, bahkan di kalangan profesi medis, banyak dokter tidak tahu tentang hal ini. Saya tidak bisa hidup seperti dulu tapi saya harus melihat hal positif dari semua ini. Dan saya berharap satu hari nanti saya akan terbangun dan meloncat dari tempat tidur saya," tutup Nicola.

(vit/vit)