Ketika dulu Huang lahir, dokter merasa ia mungkin tidak akan bisa bertahan hidup lama. Sebab jantungnya yang menonjol diketahui cacat dan rentan terhadap cedera. Orang tuanya mengaku sangat cemas, Huang tidak pernah diizinkan untuk bermain dengan anak-anak lain karena takut anaknya meninggal.
Saat remaja, Huang juga diketahui mudah sesak napas dan tubuhnya membiru saat ia berdiri. Jantungnya yang menonjol keluar dari perut bagian atas dan bisa terlihat jelas pergerakannya saat memompa darah. Oleh sebab itu, dokter memberi peringatan bahwa ia mungkin saja meninggal mendadak jika jantungnya tak sengaja terpukul.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Operasi ini dilakukan untuk memindahkan jantungnya dari perut ke posisi yang seharusnya. Dengan biaya operasi sebesar 200.000 yuan atau sekitar Rp 355 juta, orang tua Huang yang berprofesi sebagai petani tak mampu untuk membayar. Beruntungnya, setelah kisahnya dimuat di sebuah media lokal yang cukup besar, dalam waktu 6 hari Huang mendapatkan dana dari para pembaca yang merasa simpati.
Huang pun segera melakukan operasi perpindahan posisi tersebut. Operasi yang berlangsung selama lebih dari 10 jam ini berhasil terselesaikan dengan baik. Kini perut Huang sudah lebih datar dan jantungnya sudah berada di posisi yang seharusnya. Pasca menjalani operasi ini, Huang bisa bernapas lebih lega dan tubuhnya tak lagi membiru seperti sebelumnya.
"Ini mimpi yang menjadi kenyataan. Saya kini bisa menjalani hidup normal seperti orang lain," papar Huang, seperti dilansir Daily Mail, Jumat (23/8/2013).
Kelainan posisi jantung kongenital ini menurut dokter sangat langka dan terjadi hanya pada 5 dari setiap 1 juta kelahiran. Kebanyakan pasien yang mengalami kondisi ini meninggal sesaat setelah lahir.
(vit/vit)











































