Kelainan Langka dan Tak Bisa Kenali Makanan, Bocah Ini Hobi Makan Lumut

Kelainan Langka dan Tak Bisa Kenali Makanan, Bocah Ini Hobi Makan Lumut

Ajeng Annastasia Kinanti - detikHealth
Jumat, 13 Sep 2013 13:34 WIB
Kelainan Langka dan Tak Bisa Kenali Makanan, Bocah Ini Hobi Makan Lumut
Zach Tahir (Foto: Daily Mail)
Greater Manchester, Inggris -

Umumnya anak kecil akan sangat menyukai makanan manis seperti permen atau cokelat, namun tidak bagi Zach Tahir (6). Bocah ini memiliki kondisi langka yang membuatnya tidak dapat membedakan antara objek yang dapat dimakan dan tidak. Ia bahkan suka sekali makan lumut.

Zach yang berasal dari Salford, Greater Manchester, ini mengalami kondisi yang disebut sebagai pica, yaitu gangguan makan yang membuatnya tak bisa mengenali makanan apa yang bisa dimakan dan mana yang tidak. Akibatnya Zach bahkan juga pernah makan batu, kertas dan bahkan tirai di kamar tidurnya, seperti dilansir Daily Mail, Jumat (13/9/2013).

Kebiasaanya makan lumut di taman di rumahnya membuat sang ibu, Rachel Horn (32), membuatkannya taman baru. Menghabiskan biaya sekitar Rp 127 juta, taman baru ini dilengkapi dengan rumput buatan, trampolin dan peralatan bermain dengan tepi tumpul sehingga mustahil bagi Zach untuk menggigit atau memakannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rachel mengakui ia sengaja mengumpulkan dana untuk membuat taman baru ini dengan membuat sebuah acara amal malam komedi.

"Hasilnya sangat bagus, Zach menyukainya dan saya merasa taman yang baru ini jauh lebih aman baginya. Di taman yang dulu kami harus waspada jika sedang hujan, karena ketika berlumpur Zach akan sangat tertarik untuk makan lumut. Kini ia tidak bisa makan apa pun di taman, ini yang paling penting," ungkap Rachel.

Taman baru Zach dibangun beberapa bulan setelah ia diberi kamar tidur baru. Pembuatan kamar tidur ini juga menghabiskan biaya yang cukup besar, yaitu sekitar Rp 646 juta.

"Tidak ada batasan benda apa yang tidak akan ia coba makan. Zach menyukai benda-benda yang bertekstur. Lumut selalu menjadi favoritnya. Ini sangat mengkhawatirkan saya sebagai orang tua, karena Anda tidak pernah tahu jenis kuman apa yang bisa masuk ke dalam tubuhnya," tutur Rachel.

Awalnya Zach yang juga diketahui tidak bisa berbicara dan autis tidak begitu menyukai taman barunya. Namun kemudian Rachel meletakkan berbagai macam mainan di sana. Kini Zach dan adiknya, Isabella, justru sangat sering bermain di taman tersebut.

Sekitar 10-30 persen dari anak-anak yang berusia antara 1-6 tahun mengalami pica. Gangguan ini paling umum diketahui dialami oleh mereka yang memiliki gangguan perkembangan, seperti autisme.

Hal serupa juga sering terjadi pada anak-anak berusia antara 2-3 tahun dan pada mereka yang pernah mengalami cedera otak.

Orang dengan pica sering menginginkan dan akan makan barang-barang yang tak lazim dimakan seperti kotoran, cat, kapur, tanah liat, bubuk kopi, puntung rokok, rambut dan pasir. Kondisi ini jika tak diawasi secara ketat dapat mengakibatkan masalah kesehatan yang serius, seperti keracunan timbal.

(/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads