Selasa, 01 Okt 2013 10:24 WIB

Narkolepsi Pasca Disuntik Vaksin Flu Babi, Josh Bisa Tidur 19 Jam Sehari

- detikHealth
Josh dan ibunya (Foto: SWNS) Josh dan ibunya (Foto: SWNS)
Somerset, Inggris - Anak lelaki bernama Josh Hadfield ini menderita narkolepsi setelah mendapat vaksin flu babi. Akibatnya, Josh bisa tertidur 19 jam sehari. Saat orang tuanya meminta dana kompensasi, permohonannya ditolak karena kondisi Josh dianggap tidak terlalu parah.

Josh mengalami narkolepsi tiga minggu setelah mendapat injeksi vaksin flu babi. Kini, ia bisa tertidur hampir setiap lima menit bahkan ketika ia berjalan, makan, dan berenang. Josh juga kejang-kejang ketika ia tertawa.

Narkolepsi adalah gangguan tidur yang membuat seseorang tiba-tiba tertidur di waktu yang tidak wajar. Ini adalah gangguan neurologis jangka panjang yang mengganggu pola tidur. Penyebabnya adalah autoimun di mana antibodi justru menyerang sel sehat. Pada narkolepsi, antibodi menyerang area otak yang menghasilkan zat kimia pengatur tidur.

Belum ada obat untuk kondisi ini kecuali pengelolaan gaya hidup. Awal tahun ini, pemerintah mengakui bahwa ibu Josh, Caroline Hadfield, bisa saja mendapat bantuan keuangan untuk menangani kondisi putranya. Tapi kondisi Josh saat ini dinilai tidak terlalu parah sehingga belum memenuhi syarat mendapat kompensasi.

"Keputusan ini sangat mengecewakan, Vaksin ini telah mengubah hidup Josh selamanya. Dia harus minum obat yang sangat banyak dan dalam dosis cukup tinggi hanya untuk melewati hari-harinya," kata Caroline.

Pada 21 Januari 2012, dokter di daerah tempat tinggal Josh memberinya vaksin setelah sang ibu diberitahu bahwa Josh berisiko terkena virus H1N1 (flu babi)karena dia masih balita. Namun, Caroline yang tinggal di Frome, Somerset ini melihat perubahan drastis pada putranya dua minggu setelah mendapat vaksin.

"Sebelum mendapat vaksin dia anak yang enerjik, tapi dalam waktu dua minggu ia makin lelah dan setelah tiga minggu Josh tidur 19 jam sehari. Kemudian, untuk berjalan saja ia harus berjuang dengan keras," jelas Caroline.

Wanita yang bekerja sebagai PNS ini mengaku belum ada yang bisa meyakinkannya apakah suntikan vaksin itulah yang menyebabkan kondisi Josh menjadi seperti sekarang. Selain minum obat, Josh juga harus mengontrol dirinya.

"Tertawa bisa memicu serangan kejang dan kadang Josh tidak berani keluar karena takut insiden itu terjadi. Pemerintah bereaksi spontan terhadap flu babi dan mengeluarkan vaksin ini serta memberinya pada anak-anak kecil," tutur Caroline.

Dikutip dari Daily Mail, Jumat (1/10/2013), vaksin flu babi digunakan secara luas di Inggris selama tahun 2009 sampai 2012 dan diberikan kepada hampir satu juta anak usia enam bulan sampai lima tahun. Tapi, sejak tahun 2011 vaksin ini belum diberikan pada orang di bawah usia 20 tahun karena khawatir adanya risiko narkolepsi.

UK Health Protection Agency menemukan bahwa pemberian suntikan pada anak-anak bisa meningkatkan risiko mereka terkena narkolepsi sampai 14 kali. Bulan lalu, pemerintah menyatakan bahwa kondisi Josh disebabkan karena vaksin tersebut, tapi kompensasi belum bisa diberikan karena batasan cacat yang dialami akibat vaksinasi minimal 60 persen.

Keluarga bisa menerima dana sampai Rp 2 miliar jika anak memang terbukti mengalami 'cacat' parah akibat vaksin. Tapi Caroline mengatakan bahwa untuk mendapat kompensasi, anak harus kehilangan penglihatan, pendengaran, dan anggota tubuh atau bisa dikatakan sudah tak bisa melakukan kegiatan apa-apa.

Juru bicara Department for Work and Pensions (DWP) yang menjalankan program vaksin tersebut mengatakan bahwa DWP harus melihat lagi beberapa hal terkait kompensasi vaksin ini mengingat informasi mengenai flu babi dan narkolepsi yang baru diberikan departemen kesehatan.

Kini, Caroline sedang meminta bantuan hukum untuk mengajukan banding atas keputusan tersebut.



(vit/up)