Kehilangan Payudara, Saat Terberat Shanti Hadapi Kanker

Kehilangan Payudara, Saat Terberat Shanti Hadapi Kanker

- detikHealth
Senin, 07 Okt 2013 08:34 WIB
Kehilangan Payudara, Saat Terberat Shanti Hadapi Kanker
Shanti (Foto: Vita/ detikHealth)
Jakarta - Bagi perempuan payudara memegang peranan penting. Bukan sekadar sarana untuk memberi makan anaknya melalui air susu ibu tetapi juga untuk menambah keindahan seorang perempuan. Wajar, kehilangan sebelah payudaranya, merupakan saat terberat bagi Shanti Persada saat menghadapi kanker payudara.

"Mastektomi itu gimana ya, itu berat buat wanita. Tapi alhamdulillah berkat support keluarga, sahabat, itu semua bisa menguatkan," kata Shanti, survivor kanker payudara yang juga ketua dan pendiri komunitas Lovepinkusai jalan santai pasien dan survivor kanker payudara di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, dan ditulis pada Senin (7/10/2013).

Menurut Shanti, lebih baik kehilangan sebelah atau sepasang payudara namun nyawanya bisa diselamatkan dari kanker. Apalagi selama sakit, Shanti terus terbayang-bayang putrinya yang saat itu masih berusia 11 tahun dan ibundanya yang berusia 80 tahun. Shanti punya harapan kuat untuk sembuh demi orang-orang terkasihnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perjuangan Shanti lepas dari kanker terus berlanjut. Kepalanya kerap pusing dan mulutnya tak merasakan apa-apa sebagai efek dari kemo yang dijalaninya. Meski diakui dia, efek kemo orang yang satu dan lainnya berbeda-beda, tergantung metabolisme. Bagi yang efeknya berat, terkadang ada pasien yang menyerah.

Shanti menceritakan awalnya terkena kanker payudara. Di awal 2010, dia menemukan payudara kanannya bengkak. Semula dia mengira bengkaknya payudara itu karena dia akan menstruasi. Namun setelah menstruasi, ternyata payudaranya masih bengkak. Lalu mendadak putingnya masuk ke dalam. Dia pun memberanikan diri mengonfirmasi ke dokter melalui sejumlah pemeriksaan bahwa dirinya terkena kanker payudara.

"Kaget banget waktu periksa ke dokter dan tahu kalau kena kanker payudara stadium 3B. Dunia rasanya berhenti beberapa detik. Lalu setelah itu saya tanya ke dokter harus ngapain," sambung Shanti.

Kemoterapi dijalaninya 6 kali, hingga kemudian operasi pengangkatan payudara dilakukan di Agustus 2010. Singledrug kemo dijalani pula oleh Shanti selama 14 kali.

"Baru dinyatakan clean setelah 5 tahun. Sekarang tahun ketiga saya. Sekarang ini saya juga masih minum obat kanker," ucap perempuan 46 tahun ini.

Sekarang Shanti berupaya menjalankan gaya hidup sehat agar sel kanker tidak aktif kembali. Selain makan makanan yang lebih sehat, Shanti pun berupaya keras agar tidak stres. "Sekarang tidak ngoyo seperti dulu, rileks. Alhamdulillah ada kesempatan kedua untuk hidup," kata Shanti.

Saat ini Shanti mendedikasikan separuh waktunya untuk para pasien kanker payudara melalui komunitas Lovepink. Dua hari di waktu kerja, Shanti aktif mengunjungi para pasien kanker payudara yang membutuhkan dukungan. Dia ingin membagi semangat dan menguatkan para pasien kanker agar tak mudah menyerah.



(vit/up)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads