Rahim Harus Diangkat, Gadis 19 Tahun Tinggalkan Kuliah Demi Punya Anak

Rahim Harus Diangkat, Gadis 19 Tahun Tinggalkan Kuliah Demi Punya Anak

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Rabu, 16 Okt 2013 07:32 WIB
Rahim Harus Diangkat, Gadis 19 Tahun Tinggalkan Kuliah Demi Punya Anak
Foto: Daily Mail
Liverpool - Memiliki anak merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi seorang wanita. Oleh sebab itu, ketika Amy McStein diberi tahu bahwa ia harus menjalani histerektomi atau pengangkatan rahim di usia 19 tahun, ia rela meninggalkan kuliahnya demi menjadi seorang ibu.

Dilansir Daily Mail, Rabu (16/10/2013), Amy menyatakan bahwa kini ia sangat menikmati hidupnya menjadi ibu di usia muda dari Ava Grace (2).

Amy mengambil keputusan untuk meninggalkan kuliahnya dan menjadi ibu di usia yang terbilang masih sangat muda setelah dokter mengatakan bahwa kondisi endometriosisnya semakin parah. Hanya masalah waktu saja hingga ia harus melakukan pengangkatan rahim.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Meskipun sudah bolak-balik ke dokter, saya selalu diberitahu awalnya bahwa nyeri ini hanya karena periode menstruasi saja. Padahal saya benar-benar merasa tak berdaya," ungkap Amy yang kini berusia 22 tahun.

Suatu hari saat Amy dan keluarganya sedang pergi makan malam di luar rumah, ia merasakan ada nyeri yang sangat hebat di perutnya dan pingsan. Beberapa pekan kemudian, Amy kembali pingsan dan pada saat dibawa ke dokter, dokter menemukan kista berdiameter 5 cm pada indung telur kanannya.

Amy kemudian dipindahkan ke Liverpool Women's Hospital, di mana ia menjalani operasi kecil untuk mengatasi kistanya. Setelah terbangun dari operasi, ia diberi tahu bahwa ia memiliki endometriosis parah dan harus mulai minum obat untuk menginduksi menopause.

"Saat itu saya benar-benar terkejut. Saya baru berusia 19 tahun. Mereka bilang saya perlu histerektomi sesegera mungkin. Paramedis juga menjelaskan bahwa jika saya ingin punya anak, maka saya harus segera hamil. Jika tidak maka saya tidak akan mendapatkan kesempatan lain untuk menjadi seorang ibu," tutur Amy.

Amy yang saat itu sedang kuliah ilmu forensik di Liverpool John Moores University, kemudian dihadapkan pada pilihan yang paling sulit dalam hidupnya: punya anak atau melanjutkan pendidikan.

Setelah melalui berbagai diskusi panjang dengan pasangannya, Jack, Amy memutuskan untuk berhenti kuliah dan menghadapi trauma selama delapan bulan kemudian sebagai perjuangannya untuk bisa memiliki anak. Amy mengalami 3 kali keguguran, dua di antaranya terjadi pada usia kandungan 8 pekan , dan terakhir di usia kandungan 17 pekan.

"Saya mulai kehilangan harapan. Saya menghabiskan waktu berminggu-minggu di rumah sakit. Akhirnya pada April 2011, saya hamil untuk keempat kalinya. Kali ini, saya menghabiskan 13 minggu dari 35 minggu kehamilan di rumah sakit," terang Amy.

Meskipun mengalami 2 kali pendarahan dan 2 kali diberi tahu dokter bahwa Amy mungkin akan kembali kehilangan bayinya, ia tak menyerah. Putri mereka, Ava Grace, lahir dengan selamat. Amy yang kini sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga, saat ini sedang mempersiapkan diri untuk histerektomi yang akan dilakukan dalam 12 bulan ke depan. Amy kini juga menghabiskan waktu luangnya untuk meningkatkan kesadaran masyrakat tentang endometriosis.

(ajg/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads