Ini Dia Pria Difabel Pertama yang Terjun Payung Melewati Gunung Everest

Ini Dia Pria Difabel Pertama yang Terjun Payung Melewati Gunung Everest

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Selasa, 29 Okt 2013 07:00 WIB
Ini Dia Pria Difabel Pertama yang Terjun Payung Melewati Gunung Everest
Marc Kopp (Foto: news.com.au)
Kathmandu, Nepal - Orang yang masih sehat dan tak mengalami kecacatan maupun mengidap penyakit tertentu seharusnya malu pada pria ini. Walaupun mengidap penyakit yang melumpuhkan ototnya, ia berani terjun di atas gunung tertinggi dunia, Everest.

Marc Kopp, seorang pengidap multiple sclerosis berhasil menjadi difabel pertama yang melakukan aksi terjun payung dan mendarat di Gunung Everest, sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan karena dikhawatirkan kondisi tubuhnya yang cacat membuatnya cedera saat melakukan aksi tersebut.

"Saya merasa sangat bahagia. Saya kelelahan tapi sangat bahagia," tutur Kopp dari atas ranjangnya di sebuah rumah sakit di Kathmandu, Nepal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

10 Tahun lamanya pria yang tinggal di timur laut Paris ini mengidap multiple sclerosis, penyakit degeneratif sistem saraf yang mengganggu kemampuan otak untuk berkomunikasi dengan tubuh. Gejalanya antara lain otot melemah serta munculnya lesi di otak dan sumsum tulang belakang. Pada kasus terparah, pasien dapat kehilangan kemampuan berbicara atau berjalan.

Kopp terlihat melompat keluar dan terjun dari helikopter yang melayang di atas ketinggian 10.000 meter di atas gunung, didamping salah seorang rekannya, jawara terjun payung, Mario Gervasi.

"Saya berharap aksi ini akan menginspirasi orang lain yang juga mengidap multiple sclerosis. Saya juga ingin makin banyak orang yang mengikuti jejak saya," kata Kopp seperti dilansir news.com.au, Selasa (29/10/2013).

Tak berhenti sampai disitu, Kopp juga mengisahkan proses persiapan untuk aksi terjun payung itu membuat sekujur tubuhnya kesakitan. Pasalnya meski biasanya Kopp menggunakan kursi roda, trek yang harus ia lalui sepanjang pegunungan Himalaya memaksa pria berusia 55 tahun tersebut menempuh beberapa jam naik kuda agar dapat mencapai landasan tempat ia akan melompat. Tentu saja hal ini terasa menyakitkan bagi tulang belakangnya.

"(Karena hal itu) di hari-hari terakhir menjelang hari H, saya sempat beberapa kali mengira saya takkan pernah mewujudkan mimpi saya," ujar Kopp.

Untuk membiayai perjalanannya, Kopp sukses menggalang dana sebesar 37.000 dollar AS (sekitar Rp 409 juta) dari rekan-rekan dan sejumlah donatur yang ingin membantunya. Namun mengingat kondisinya yang tak sesehat orang normal, setelah terjun, Kopp langsung dibawa kembali ke Kathmandu dengan mengendarai helikopter dan dokter memintanya istirahat seharian.

Kopp sendiri baru didiagnosis mengidap salah satu jenis multiple sclerosis yaitu primary progressive multiple sclerosis pada tahun 2001. Penyakit ini merupakan bentuk multiple sclerosis yang paling parah dan hampir tak ada peluang untuk sembuh.

Kendati begitu, Kopp tetap aktif menjadi sukarelawan dan membidani sebuah grup pendukung untuk penderita multiple sclerosis lainnya.

(/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads