"Setelah melompat, saya tidak bisa melihat di sisi samping, hanya bisa ke depan. Awalnya saya pikir penglihatan yang samar ini hanya efek karena baru selesai melompat," ujar Cija, seperti dilansir Daily Mail, Rabu (30/10/2013).
Namun beberapa saat kemudian ia mengalami sakit kepala. Sering bepergian dan beberapa kali mengalami sakit kepala yang sama membuat Cija berpikir ia hanya kelelahan dan harus segera pulang. Jadi saat itu Cija hanya minum parasetamol dan tidur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Addenbrooke's Hospital, Cambridge, Cija kemudian melakukan CT scan dan diberitahu bahwa ia mengalami arteri di lehernya robek. Kondisi ini membuat adanya gumpalan darah dan memicu stroke. Sebagai seorang perawat, Cija paham betul akan segala penjelasan dokter.
"Saya bekerja di unit stroke selama pelatihan dan telah melihat orang-orang tak bisa berbicara sama sekali, terjebak di kursi roda selama sisa hidupnya. Saya berharap bahwa saya hanya mengalami stroke ringan dan meyakinkan diri saya bahwa saya akan baik-baik saja," tutur Cija.
Efek dari stroke bergantung pada bagian otak yang rusak. Pada Cija, bagian otaknya yang rusak adalah di sisi tengah dan kiri, sehingga menyebabkan adanya masalah dengan bahasa dan gerakan di tubuh sisi kanannya. 6 bulan pasca stroke dan menjalani fisioterapi intensif, Cija masih belum bisa menggerakkan lengan dan tangan kanannya, sehingga masih belum bisa menggunakan sendok, garpu atau memakai kosmetik. Tapi ia sudah dapat berjalan sendiri perlahan-lahan.
Hingga kini pun Cija masih mengonsumsi aspirin setiap hari untuk mencegah strokenya kambuh dan berharap bisa kembali bekerja tahun depan. Mengalami kejadian ini tak lantas membuat Cija menyesal, ia senang pernah mencoba bungee jumping.
"Kadang-kadang saya marah karena hal ini telah mempengaruhi hidup saya dalam banyak hal. Tapi saya bertekad untuk tetap melanjutkan hidup dan membuatnya menjadi yang terbaik," ujar Cija.
(ajg/vit)











































