Simon diketahui mengalami kecelakaan, di mana ia yang sedang mengendarai sepeda motor tertabrak sebuah mobil. Saat itu, Simon terlempar dan sepeda motornya dan mengalami cedera otak. Akibatnya, ia tanpa sadar tak lagi mengenal seperti apa dirinya yang dulu dan mengalami perubahan karakter.
Saat itu Simon langsung dibawa ke Addenbrooke’s Hospital, Cambridge, dalam kondisi dengan tubuh penuh luka-luka, memar di hati, limpa, dan katup aorta. Simon juga mengalami patah tulang di tiga bagian tulang punggung, retak tulang rusuk dan kehilangan sekitar delapan liter darah. Ia dibuat koma selama tiga hari sementara ahli bedah mencoba mengobati semua lukanya. Istrinya, Tanya, diperingatkan oleh staf rumah sakit bahwa mungkin suaminya tak bisa bertahan hidup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebelum kecelakaan itu, saya selalu dikenal memiliki kepribadian yang suka berteman dan santai. Saya jarang berteriak atau marah. Tapi kini saya sebaliknya," ujar Simon, seperti dilansir Mirror, Senin (4/11/2013).
Simon juga mengungkapkan bahwa ia kini menjadi pelupa. Ia seringkali lupa di mana ia meletakkan kunci, ponsel, atau dompet. Hal ini semakin memperburuk aktivitasnya sehari-hari, sebab ia akan menjadi sangat marah dan agresif.
"Saya menjadi sangat kasar pada Tanya dan anak-anak saya. Saya tidak bisa mengatur emosi, sehingga kadang anak-anak saya takut untuk berbicara pada saya. Saya juga seringkali tidak sengaja kasar dan agresif pada orang tua dan teman-teman saya," tutur ayah dari Jacob (9) dan Reuben (5) ini.
Untuk membantunya mengontrol emosi, Simon rutin berkonsultasi dengan seorang neuropsikolog. Dengan begitu, ia bisa diajarkan teknik-teknik khusus untuk membantunya mengatasi perubahan suasana hati dan sikapnya yang mudah marah.
"Lobus frontal dan temporal anterior otak adalah daerah yang paling sering rusak dalam cedera otak traumatis. Masalah yang timbul termasuk suasana hati yang labil, cepat marah, agresi, paranoia dan cacat intelektual," kata Dr Paul Shotbolt, dokter yang mengkhususkan diri dalam cedera otak dan terapi psikologis di Re:Cognition Health.
Tanya, yang telah menikah dengan Simon selama 13 tahun, mengatakan bahwa 18 bulan pertama setelah kecelakaan merupakaan saat terburuk dalam pernikahan mereka. Saat itu Simon tidak mengingat Tanya sama sekali dan Tanya harus membantunya mengingat semua hal tentang ia dan anak-anak mereka.
"Sikap Simon sangat sulit diprediksi karena perubahan suasana hatinya yang cepat. Ia sangat kasar kepada anak-anak kami, padahal ia tidak pernah seperti itu sebelumnya. Kini saya dan anak-anak akan membantunya belajar beradaptasi dan menerima ia apapun kondisinya," terang Tanya.
(ajg/)










































