Marlene yang tercatat sebagai salah seorang mahasiswa Berlin’s Charité University Medicine, Jerman, ini memutuskan untuk mempelajari makhluk hidup tersebut. Sementara si kutu hidup di kakinya, Marlene selalu memotret dan sesekali membuat video terkait kehidupan si kutu. Pekerjaan Marlene di kampus tersebut adalah penelitian tentang cara mencegah tungiasis, sebuah penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi kutu betina di Madagaskar.
Kutu pasir ini biasanya masuk ke dalam kulit host, yang dalam hal ini manusia, untuk hidup dan berkembang biak. Ini akan menyebabkan orang tersebut mengalami nyeri dan gatal akibat infeksi. Satu-satunya pengobatan yang bisa dilakukan adalah dengan mengeluarkan kutu tersebut dari kulit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah itu, Marlene memutuskan sudah waktunya untuk mengeluarkan kutu tersebut dari kakinya. Meskipun dengan keputusan ini berarti ia menghentikan penelitiannya, namun ia menemukan bahwa faktanya kemungkinan besar kutu masuk ke dalam host secara berpasangan. Dalam kasusnya, kutu yang masuk tidak memiliki pasangan sehingga tidak bisa bertelur dan berkembang biak.
Marlene bukanlah peneliti pertama yang membahayakan kesehatannya sendiri demi ilmu pengetahuan. Sebelumnya dilaporkan bahwa seorang ahli biologi Amerika telah hidup dengan cacing parasit di dalam mulutnya selama 3 bulan. Dr Jonathan Allen (36) menjadi host bagi Gongylonema pulchruma, sebuah parasit yang ditempatkan di pipi dan bibirnya.
Sama seperti Marlene, Dr Jonathan kemudian memutuskan untuk mengeluarkan parasit tersebut, namun sayang dokter gigi dan dokter bedah tidak bisa melakukannya. Dr Jonathan pun nekat menggunakan tang kecil untuk mengeluarkan si parasit dari pipinya dengan bantuan sang istri. Kini parasit tersebut ia simpan di dalam botol dan masih ia pelajari.
(ajg/)










































