Lester mengungkapkan, sebelum kematian Anne ia telah berulang kali mengingatkan istrinya untuk istirahat dari pekerjaannya. Lester menilai Anne terlalu memaksakan tubuhnya untuk bekerja dan kurang mempedulikan kesehatannya. Lester menemukan mayat Anne setelah dua jam berjuang mengebor pintu kamar yang terkunci dari dalam.
Sampai saat ini dokter masih belum bisa memastikan apa sebenarnya yang menyebabkan kematian Anne. Dari darah tubuh Anne yang ditemukan saat tewas memang ditemukan adanya konsumsi obat anti-malaria dosis tinggi, namun dokter memperkirakan bukan obat tersebut penyebab kematiannya. "Sebelum kematiannya, saya dan teman-temannya sangat khaawtir melihat beban kerjanya yang berat," ujar Lester.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anne dikenal sebagai seorang ilmuwan yang berhasil menemukan adanya hubungan antara human papillomavirus (HPV) dan kanker leher rahim. Ia juga merintis pembuatan vaksin HPV, yang merupakan vaksin kali pertama dibuat untuk kanker. Hingga kini vaksin tersebut telah digunakan pada wanita di seluruh dunia.
Lahir di London dari orang tua yang berasal dari Polandia, Anne mengambil studi kedokterannya di Middlesex Hospital sebelum akhirnya bekerja di Whittington Hospital di Highgate, North London. Akhir-akhir ini ia diketahui bekerja sebagai dokter kandungan di Margaret Pike Centre di King Cross, dosen klinis di Wolfson Institute, Queen Mary, University of London dan juga bekerja untuk Cancer Research.
Lester mengungkapkan ia telah menerima banyak pesan dari seluruh dunia sebagai tanda penghormatan kepada istrinya tersebut. "Dia wanita yang luar biasa, unik, ceria dan pintar. Wanita di seluruh dunia kini telah mendapatkan vaksin rintisannya. Saya bangga padanya," tutur Lester.
(ajg/up)










































