Perut Lumpuh Karena Sakit Langka, Wanita Ini Tak Bisa Makan Normal Lagi

Perut Lumpuh Karena Sakit Langka, Wanita Ini Tak Bisa Makan Normal Lagi

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Senin, 09 Des 2013 18:28 WIB
Perut Lumpuh Karena Sakit Langka, Wanita Ini Tak Bisa Makan Normal Lagi
Foto: medavia.co.uk
Glasgow - Bagaimana tidak sedih, wanita ini divonis takkan bisa makan secara normal lagi sejak didiagnosis mengidap penyakit langka pada pencernaannya. penyakit itu telah membuat perutnya lumpuh dan ia pun diprediksi hanya bisa makan lewat selang seumur hidupnya.

Penyakit yang diidap Gillian Doig itu bernama gastroparesis. Ini adalah gangguan pencernaan langka yang menyebabkan perut penderitanya seperti lumpuh sehingga tak dapat mengosongkan dirinya sendiri layaknya pencernaan orang normal.

Gara-gara gastroparesis, berat badan mantan resepsionis hotel ini pun menyusut hingga tinggal 38 kg. Demikian dilansir Daily Mail, Senin (9/12/2013).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Waktu itu, saya sedang makan bersama kedua orang tua saya ketika tiba-tiba saya merasa harus ke kamar kecil karena sakit perut. Tapi beberapa hari kemudian saya merasakan hal serupa hampir 30 kali dalam sehari. Saya tahu ini tidak biasa," tuturnya.

Saat itu sebenarnya Gillian sudah menderita sakit perut yang tak wajar selama dua tahun dan ia sempat didiagnosis dengan peradangan pankreas (pankreatitis). Setelah menjalani serangkaian tes di tahun 2009, tim dokter barulah memastikan bahwa di samping pankreatitis, Gillian juga mengidap gastroparesis, kondisi yang mencegah perut penderitanya menggerakkan makanan untuk turun menuju usus kecil.

Gejalanya antara lain kembung, muntah-muntah parah dan penurunan berat badan yang drastis. Di UK sendiri diperkirakan kasus serupa hanya sebanyak 50 buah tiap tahunnya.

Dan apa yang terjadi pada Gillian di perayaan Boxing Day 2010 itu hanyalah efek yang menunjukkan bahwa gastroparesisnya makin parah. "Saya tak percaya ketika dokter mengatakan perut saya benar-benar lumpuh. Saya berakhir di rumah sakit selama tujuh minggu ketika mereka berupaya mencoba berbagai hal untuk menaikkan berat badan saya. Mereka bahkan mencoba menyuntikkan Botox ke perut saya tapi nihil juga," kata Gillian.

Hingga akhirnya dokter memutuskan memasang perangkat sejenis alat pacu jantung ke dalam perut Gillian, yang menurut dokter dapat mengembalikan kemampuan perut gadis ini untuk mencerna makanan. Alat ini bekerja dengan cara mengirimkan sinyal elektrik ke perut agar ia mau berkontraksi dan memproses makanan.

Beberapa saat setelah operasi selesai dilaksanakan di Ross Hall Hospital, Glasgow pada bulan Agustus 2011, Gillian menyadari jika operasinya tak berjalan lancar. Menurut Gillian, hal pertama yang dirasakannya adalah rasa nyeri luar biasa di perutnya.

"Saya tak pernah merasakan yang seperti ini. Saya sudah diberi morfin tapi itu tak membantu. Saya hanya bisa menangis semalaman karena sakitnya luar biasa. Saya memang dipulangkan lima hari kemudian, tapi rasa sakit itu masih ada," ujar Gillian.

Gadis berusia 28 tahun itu makin khawatir ketika ia terus muntah tiap kali makan, terhitung Gillian bisa muntah hingga 80 kali dalam seminggu. Begitu juga dengan berat badannya yang terus turun. Ini artinya operasi pemasangan perangkat itu tak membuahkan hasil dan Gillian harus rela makan dari selang untuk seumur hidupnya. Cara ini terpaksa dilakukan demi menambah berat badan Gillian.

"Awalnya saya begitu membenci gagasan makan lewat selang dan menjadi sangat sedih karenanya, tapi saya tak punya pilihan lain karena saya benar-benar tak bisa mencerna apapun," tuturnya.

Namun ternyata Gillian merasa makan lewat selang tidaklah seburuk yang ia sangka selama ini, apalagi para perawat di rumah sakit tempatnya diopname sangat suportif kepadanya.

Hanya saja karena cara itu ternyata tak dapat membantu menambah berat badan Gillian, gadis ini pun dipasangi alat lain yang dikatakan dokter dapat menyuplai makanan agar bisa masuk langsung ke aliran darahnya, tanpa perlu melalui sistem pencernaan. Operasi pemasangan alat ini berlangsung pada bulan September tahun ini.

"Saya merasa lebih baikan sekarang karena rasa sakitnya tidak setiap saat terjadi. Semua orang juga yakin berat badan saya mulai bertambah," katanya bahagia.

(/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads