"Saya terbangun dan kaki saya hilang. Ini sangat mengejutkan bagi saya. Dokter bilang kaki saya memang diamputasi karena hancur," ujar Ahammed, seperti dilansir Asia One, Jumat (3/1/2014).
Dirawat di Thye Hua Kwan Hospital, Singapura, Ahammed mengungkapkan hal ini sangat menjadi beban bagi dirinya. Bagaimana tidak, sebagai kepala keluarga, ia merasa harus memenuhi kebutuhan seluruh keluarganya. Ia biasa menjadi tulang punggung. Namun kini dengan ketidaksempurnaannya, Ahammed merasa sangat terpukul. "Siapa yang akan mengurus keluarga saya?" ucap Ahammed dengan nada sedih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlihat masih trauma, Ahammed berulang kali mengungkapkan ketakutannya. Ia merasa ada kemungkinan keluarganya tidak akan mau menerimanya lagi dengan kondisi cacat seperti saat ini, "Selain itu saya juga sudah tidak bisa bekerja lagi, sehingga tidak ada orang lain yang bisa memberi makan keluarga saya," tutur Ahammed.
Dari segi fisik, kondisi Ahammed saat ini sudah cukup pulih, luka operasinya pun semakin membaik setiap hari. Namun tidak bagi kondisi mentalnya. Meski awalnya sempat tersenyum, Ahammed beberapa kali terlihat sedih saat melihat kursi roda yang kini menjadi alat transportasinya jika ingin 'berjalan-jalan'.
(ajg/vit)










































