Wanita berusia 31 tahun ini tengah berada dalam proses melahirkan putri keduanya ketika dokter menyadari ada sesuatu yang salah. "Mereka berpikir bayi saya berusaha keras untuk keluar karena kepalanya terhambat di jalan lahir. Saya ingat melihat mereka menyinarinya dengan senter dan ada yang bilang itu karena benjolan," ujar Willson, seperti dilansir Telegraph, Selasa (21/1/2014).
Namun dokter tak lagi memberitahu apa-apa padanya. Setelah sang bayi lahir dengan selamat, Willson kemudian diperbolehkan pulang. Enam pekan kemudian, Willson menemukan bahwa benjolan tersebut adalah tumor dan ia mungkin terkena kanker serviks.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia kemudian disarankan untuk segera memulai pengobatannya, mulai dari kemoterapi, radioterapi dan brachytherapy. Putrinya, Robyn, akhirnya diasuh sendiri oleh suaminya, George. "Saya secara fisik tidak bisa merawat Robyn, semua terasa terlalu melelahkan. Selama beberapa bulan pertama kehidupannya, saya tak pernah benar-benar ada. Ini membuat hubungan saya dengannya menjadi agak kaku," ungkap Willson.
Ia ingat pernah diberi saran untuk melakukan papsmear setelah melahirkan putri pertamanya, Milli (6), namun ia mengabaikannya. Dengan penuh rasa sesal, ia berpikir jika saja saat itu ia langsung melakukan papsmear dan kankernya bisa ditemukan sejak awal, mungkin kehidupannya saat ini akan menjadi lebih baik. Dalam pikirannya saat itu, ia merasa sehat dan mustahil terkena kanker.
Kini Willson sudah berada pada akhir dari masa pengobatannya. Dinyatakan sembuh setelah dua tahun perawatan rutin, Willson sangat menganjurkan bagi para wanita di seluruh dunia untuk mau melakukan pemeriksaan rutin seperti papsmear.
Meskipun awalnya mungkin terasa menakutkan, tapi diagnosis akan lebih cepat ditemukan dan pengobatan yang diberikan akan semakin cepat. Nah, sudahkah Anda melakukan papsmear tahun ini?
(ajg/vit)











































