Kisah M Amin Rafi, Dihina dan Dicaci Selama 28 Tahun karena Kusta

Kisah M Amin Rafi, Dihina dan Dicaci Selama 28 Tahun karena Kusta

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Senin, 27 Jan 2014 16:05 WIB
Kisah M Amin Rafi, Dihina dan Dicaci Selama 28 Tahun karena Kusta
Muhammad Amin Rafi (Foto: detikHealth)
Jakarta - Tak pernah terbayangkan oleh Muhammad Amin Rafi (54) bahwa separuh hidupnya akan ia lewati dengan penuh perjuangan akibat kusta. Tak hanya karena penyakit kusta itu sendiri, melainkan juga akibat stigma dan diskriminasi dari warga sekitarnya.

"Saya pernah kusta, tapi sekarang saya sudah sembuh. Saya hidup dari keluarga sederhana dan kena kusta sejak usia 12 tahun atau sejak kelas 5 SD," papar Amin kepada detikHealth, ditemui dalam acara Global Appeal 2014 yang diselenggarakan di Grand Sahid Jaya Hotel, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Senin (27/1/2014).

Diungkapkan oleh Amin, saat itu gejala awal yang muncul berupa bercak putih di punggungnya dan bercak tersebut mati rasa saat disentuh. "Saya tidak tahu itu kusta. Saya baru tahu itu kusta setelah kaki dan tangan saya cacat," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Malu karena muncul bercak-bercak, rupanya perjuangan Amin tak hanya sampai disitu saja, ia juga juga harus menerima perlakuan tak menyenangkan dari masyarakat sekitar tempat tinggalnya yang berada di Makassar, Sulawesi Selatan.

"Di sekolah saya dicaci, dihina, dimaki. Di tempat umum dan dimana-mana saya juga dicemooh. Tidak ada satu pun orang yang mau dekat saya karena mereka takut tertular. Saya hanya bisa menangis saat itu. Saya mengalami perlakuan seperti itu selama 28 tahun. Jadi separuh dari hidup saya penuh stigma dan diskriminasi," ujar Amin.

Puncak diskrimasi yang paling memilukan bagi Amin adalah saat ia kehilangan pekerjaannya. Ayah dari 5 orang anak ini diketahui bekerja di salah satu instansi pemerintah, namun kemudian di tahun 1982 ia dipecat dengan alasan karena kusta yang dialaminya.

"Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Begitu kejamnya stigma. Saya bahkan pernah mencoba untuk bunuh diri, tapi saya tidak lakukan. Saya harus bangkit dari belenggu diskriminasi," tegas Amin.

Salah satu inspirasinya untuk mengurungkan niat bunuh diri dan berusaha bangkit adalah salah satu ayat suci Alquran yang menyebutkan bahwa manusia dilahirkan sama, tidak ada perbedaan ras suku, sehat, sakit, kaya, dan miskin. "Semua haknya sama di hadapan Tuhan, yang membedakan ibadah. Biarkan tangan dan kaki kami bengkok, tapi hati kami tidak," ungkapnya.

Harapan Amin ke depannya para pasien kusta dan mereka yang sudah sembuh dari kusta bisa mendapatkan kesempatan untuk hidup yang sama. Ia tak ingin terus ada stigma dan diskriminasi terhadap penyakit kusta. Amin juga mengungkapkan bahwa ia tak ingin orang lain yang terdiagnosa oleh kusta mengalami diskriminasi sepertinya.

(ajg/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads