Sarotin (46), janda dengan empat anak itu kini tinggal di Jakarta Timur. Ia terpaksa meninggalkan kampung halaman beserta anak-anaknya setelah keluarga wanita itu membuang dirinya. Demikian dilansir Daily Mail dan ditulis, Jumat (7/2/2014).
Ia diyakini menderita neurofibromatosis, kondisi genetik yang menyebabkan pertumbuhan tidak terkendali di sepanjang saraf. Kondisi itu telah dialaminya selama tiga tahun, menyebabkan setengah wajahnya berantakan dan seluruh tubuhnya ditutupi ratusin tumor kecil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kelainan yang diderita Sarotin adalah kelainan warisan di mana jaringan saraf tumor (neurofibromas) terbentuk di kulit, lapisan bawah kulit, saraf dari otak (saraf kranial), dan sumsum tulang belakang. Akibatnya terjadilah pertumbuhan tak terkendali di sepanjang jaringan saraf, yang biasanya ditandai dengan pembengkakan atau benjolan di jaringan saraf.
Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan pada saraf yang terkena dan menyebabkan rasa sakit, kerusakan saraf yang parah, dan hilangnya fungsi di daerah yang dilalui saraf. Masalah lain yang timbul adalah sensasi atau gerakan tertentu, tergantung pada saraf yang terkena.
Tak perlu takut tertular jika bertemu penderita penyakit ini. Meskti pertumbuhan tumor-tumor itu tampak sangat mengkhawatirkan, mereka tidak bersifat kanker dan tidak akan menular.
Penyakit yang membuat tubuh penderitanya tampak mengerikan ini tidak hanya dialami Sarotin saja. Penderita neurofibromatosis lain di Indonesia adalah Slamet, seorang pria berusia 59 tahun asal Magetan. Slamet dilaporkan mengalami kondisi itu setelah sebuah tumor di pinggangnya di angkat pada tahun 1991. Bukannya sembuh total, seluruh tubuh pria itu justru dipenuhi tumor-tumor kecil.
(vit/vit)











































