Takut Berlebihan, Selama 6 Tahun Wanita Ini Tak Berani Keluar Rumah

Takut Berlebihan, Selama 6 Tahun Wanita Ini Tak Berani Keluar Rumah

- detikHealth
Selasa, 04 Mar 2014 13:31 WIB
Takut Berlebihan, Selama 6 Tahun Wanita Ini Tak Berani Keluar Rumah
Molly Woodham (Foto: Albanpix)
Jakarta - Cemas memang wajar dirasakan setiap orang, tapi bagi Molly Woodham (20), kecemasan yang ia rasakan justru menyiksanya. Bagaimana tidak, keseharian Molly dibayangi rasa cemas dan ketakutan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

Sejak enam tahun lalu, Molly merasa takut jika akan keluar rumah. Meski ia merasa rindu untuk pergi keluar, tapi ketakutan luar biasa yang tanpa sebab itu menghalangi keinginannya.

"Ini ketakutan yang sangat mengerikan. Awalnya, gangguan ini kualami saat sedang naik bus dengan ibu dan adikku. Tiba-tiba jantungku berdebar, telapak tanganku berkeringat dan sulit bernapas. Aku segera meminta sopir bus berhenti karena jika tidak aku merasa akan mati," kisah Molly.

Saat menemui dokter, ia didiagnosa mengalami gangguan kecemasan. Dengan dukungan keluarganya, Molly pun menjalani Cognitive Behavioural Therapy. Meski kondisinya membaik, selama enam bulan terakhir Molly masih sering merasa cemas. "Aku hanya ingin bisa hidup dengan damai," ujarnya.

Seperti halnya Molly, Amy Shortt selalu merasa khawatir jika akan keluar rumah bahkan ketika ia bergabung bersama teman kantornya, ketakutan atas apa yang akan terjadi tiba-tiba bisa menyerangnya. Saat rasa takut itu menjadi, Amy akan pusing dan telapak tangannya berkeringat.

"Ketika mengalami serangan panik, jantungku berdegup kencang dan aku berjuang keras untuk bernapas. Ketakutan ini bisa terjadi di mana saja. Bahkan ketika sedang asyik nonton tv tiba-tiba aku merasa akan mati dan ketakutan," kata wanita berusia 29 tahun ini.

Saat pergi ke dokter, Amy sempat didagnosa terserang virus. Namun karena kondisinya tak kunjung membaik, ia pergi ke dokter lain dan saat itu ia dinyatakan mengalami gangguan kecemasan. Gangguan ini terjadi ketika seseorang merasa cemas setiap hari. Menurut mental health charity MIND, hampir tiga juta orang di Inggris mengalami gangguan ini.

"Kecemasan adalah respons alami misalnya saat melihat singa jantung Anda akan berdegup kencang dan ketakutan. Tapi orang dengan gangguan ini tidak punya alasan nyata mengapa mereka ketakutan luar biasa," papar David Clark, profesor psikologi klinis di Oxford University, seperti dikutip dari Daily Mail, Selasa (4/3/2014).

Orang dengan gangguan ini dikatakan Clark tidak mampu untuk keluar dari rumah mereka dan tidak bisa menikmati hidup. Meskipun banyak penelitian yang menunjukkan kondisi ini disebabkan karena ketidakseimbangan zat kimia utama dalam tubuh, tapi Clark meyakinkan bahwa penyebab pasti gangguan ini belum diketahui.

Mereka yang memiliki gangguan kecemasan umumnya merasakan satu atau lebih kecemasan seperti kecemasan sosial, kecemasan akibat trauma, dan gangguan obsesif kompulsif. Menurut Clark, kafein, stres, atau jenis makanan lain bisa mempengaruhi sistem saraf yang memicu serangan panik dengan gejala pusing, gemetar, dan berkeringat.

Sementara itu, Beth Murphy, kepala informasi MIND mengatakan orang yang sering memilikii serangan panik bisa mengalami sidrom iritasi usus besar, sakit kepala, dan gangguan tidur. Ia menambahkan, dari 8.720 pasien gangguan kecemasan yang dirawat di RS adalah perempuan.

"Biasanya pasien sampai berpikiran untuk bunuh diri dan khawatir dirinya tidak berfungsi di masyarakat. Oleh karena itu penting bagi dokter yang menangani untuk memberi terapi paling tepat. Pada kasus ini, terapi perilaku akan lebih berhasil ketimbang pemberian obat," jelas Murphy.

Pernyataan Murphy ini dibenarkan oleh Amy. Awalnya, wanita ini lebih memilih konsumsi obat ketimbang terapi karena tak ingin mengganggu waktu kerjanya. Tapi setelah diberi resep antidepresan, Amy justru tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja dan ia terus merasa tegang. Hingga akhirnya ia memiliki menjalani terapi yang membuat kondisinya sedikit membaik.

(rdn/vit)

Berita Terkait