Hannah Martyn (19) sangat menyukai kegiatan menari. Sudah sejak lama gadis asal Wigan, Inggris, itu memiliki mimpi untuk menjadi seorang penari profesional.
Impian tersebut seketika runtuh saat ia didiagnosis mengalami skoliosis sekitar tiga tahun lalu. Dokter mengatakan ia harus menjalani operasi tulang belakang untuk menempatkan logam di punggung untuk meluruskan tulangnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Skoliosis adalah kelainan di mana tulang belakang berbentuk huruf s. Kondisi tersebut dialami sekitar 4 dari 1.000 anak. Jika tidak segera ditangani, tulang belakang akan semakin melengkung. Skoliosis yang telah berkembang parah dapat menyebabkan masalah fatal pada jantung dan paru-paru.
Saat ini, pengobatan yang dapat dilakukan untuk menangani skoliosis adalah dengan melakukan operasi besar. Operasi tersebut sangat berisiko karena harus menempatkan batang logam pada tulang belakang. Pada kedua sisi tulang belakang, akan diberi logam agar tulang belakang bisa lurus kembali.
Dengan adanya logam-logam tersebut pada tulang belakangnya, Hannah tentu tak bisa melakukan banyak gerakan balet yang umumnya membutuhkan kelenturan. Belum lagi, butuh waktu yang cukup lama baginya untuk pulih.
"Saya tahu cara operasi berisiko besar dan akan memakan waktu lama untuk pulih," tambahnya.
Beruntung gadis itu kemudian direkomendasikan untuk mengunjungi klinik skoliosis di London yang menawarkan penanganan tanpa operasi. Mengingat mimpinya untuk menjadi penari, ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dengan bimbingan dari klinik, gadis itu kemudian menjalani serangkaian olahraga latihan otot untuk menormalkan bentuk tulang belakang.
Beberapa minggu kemudian, Hannah mengalami perubahan drastis. Perkembangan tersebut bahkan mengejutkan pertugas medis karena Hannah tak lagi harus dioperasi. Kini gadis itu bisa kembali menari dan ia menari lima kali dalam satu minggu.
"Dia tidak hanya menstabilkan kondisinya, tetapi juga membuat perkembangan signifikan pada postur, penampilan fisik, dan kapasitas paru-parunya," tutur juru bicara dari klinik yang menangani Hannah.
Meski olahraga terbukti bekerja pada Hannah, juru bicara Asosiasi Skoliosis Inggis menyarankan agar pasien skoliosis tetap mengikuti saran dari spesialis skoliosis. Pasalnya belum ada bukti ilmiah mengenai penyembuhan skoliosis melalui olahraga intensif.
Selain itu, kasus skoliosis setiap pasien berbeda tarafnya. Pada kasus skoliosis ringan, olahraga secara intensif memang dapat memperbaiki postur, memperkuat otot, juga meningkatkan kelenturan dan penampilan.
"Tetapi tidak ada bukti jangka panjang yang menunjukkan bahwa itu (olahraga intensif) pada akhirnya bisa mencegah perkembangan kurva skoliosis." Demikian paparan juru bicara itu, seperti dilansir Daily Mail dan ditulis pada Rabu (5/3/2014).
Sayang, jenis olahraga yang harus dilakukan tidak disebutkan secara gamblang.
(vit/vit)











































