Jake lahir dengan berat sekitar 3,1 kg di Hull and East Yorkshire Women and Children's Hospital pada bulan September 2009. Ketika usianya baru seminggu, Jake terlihat lemah tak berdaya dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Namun dokter hanya mengatakan ia mungkin terserang virus biasa lalu mengirimnya pulang lagi.
Enam bulan kemudian, sang ibu, Sarah (35) melihat ada keanehan pada diri Jake karena putranya tak menggunakan tangan kanan untuk memegang sesuatu dan tangannya itu terus mengepal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter percaya Jake sempat mengalami sebuah serangan stroke saat masih dalam rahim yang menghentikan suplai oksigen ke otaknya. Kista pun terbentuk di bagian otak yang mengalami kerusakan.
Selain menyebabkan Sarah dan suaminya, Paul (41) patah hati, mereka juga tak sanggup menerima kenyataan ketika dokter mengaku tak tahu bagaimana masa depan Jake karena kelangkaan kondisinya. Mereka hanya mewanti-wanti orang tua Jake jika putranya ini mungkin takkan pernah bisa berjalan ataupun berbicara.
Akan tetapi fakta berkata lain. Jelang ulang tahunnya yang pertama, Jake bisa merangkak mengelilingi hampir penjuru rumahnya. Dan setahun kemudian, Jake terlihat mulai bisa berjalan dan mengucapkan kata pertamanya.
"Ini sulit dipercaya. Ketika kami mendapatkan hasil sinar X-nya, kami dapat melihat ada ruang besar di mana salah satu sisi otaknya telah mati. Tapi ia malah penuh energi dan bisa berlarian seperti anak seusianya, meski untuk berbicara ia sedikit terlambat," tutur Sarah seperti dikutip dari Mirror, Selasa (18/3/2014).
Sarah menambahkan Jake baru bisa bicara ketika usianya 2-3 tahun atau di belakang anak-anak seusianya tapi ia terus memperlihatkan kemajuan, apalagi mengingat sebelumnya Jake diprediksi takkan pernah bisa bicara. Bahkan bocah ajaib ini membuktikan ia bisa menuntut ilmu di sekolah umum. Rencananya Jake akan mulai bersekolah bulan September tahun ini.
Kini Sarah dan Paul tinggal mengawasi epilepsi yang diderita Jake. Jake masih sering terjatuh ketika kejang-kejangnya kambuh. Saat memakai baju dan makan pun ia masih harus dibantu.
"Ia juga tetap bersemangat bermain dengan anak-anak seusianya meski kesulitan berkomunikasi," tandas Sarah bangga.
(lil/vit)











































