Di usia dua tahun, putri bungsu ilmuwan bernama Katherine Reid tersebut mulai memperlihatkan gejala autisme, antara lain sering mengamuk, melakukan sesuatu secara berulang-ulang, gangguan komunikasi dan masalah pencernaan.
Setelah melalui serangkaian tes, ternyata bocah bernama Brooke itu dinyatakan mengidap autis sedang. Kemudian Katherine mencoba mengubah pola makan Brooke. Awalnya dengan menghilangkan gluten dan produk susu dari menu makanannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Katherine pun percaya jika kelebihan MSG akan mengakibatkan gangguan pada fungsi saraf, dan glutamine yang terkandung dalam MSG diyakini memperburuk ketidakseimbangan fungsi tubuh akibat mengonsumsi MSG secara berlebihan.
Ibu muda ini pun mencoba menghapuskan MSG dari pola makan Brooke. Dan ternyata gejala autisme yang dialami putrinya sepenuhnya hilang.
"Saya melakukan eksperimen padanya dan diri saya sendiri dan ia terlihat lebih bisa bicara dan berkomunikasi. Ia jadi lebih pandai bersosialisasi. Kebiasaannya melakukan sesuatu secara berulang-ulang juga tak pernah terjadi lagi setelah kami memperkenalkan diet itu. Fisiknya pun jadi lebih terkoordinasi," terang Katherine bangga seperti dikutip dari Foxnews, Selasa (25/3/2014).
Karena ia juga mengadopsi pola makan ini, Katherine mengaku tubuhnya terasa lebih sehat dan ia tak lagi menderita sakit kepala atau alergi seperti dulu.
Katherine berupaya menerangkan bahwa MSG tak hanya ditemukan dalam makanan oriental saja, tapi juga makanan olahan dengan kadar mencapai lima persen. Hanya saja di berbagai jenis makanan, MSG tertera sebanyak satu persen pada label.
"Tapi jika Anda menggemari makanan dengan bumbu tertentu, protein dari kedelai atau whey, pektin, atau pati jagung, maka itu sama saja Anda tengah mengonsumsi MSG," tegasnya. Bahkan belakangan diketahui jika MSG juga terkandung dalam pasta gigi tertentu.
Lalu fakta ini ia kaitkan dengan realita bahwa sebagian besar gangguan perkembangan saraf seperti autisme dan gangguan neurologi lainnya memiliki keterkaitan langsung dengan ketidakseimbangan asupan glutamate.
"Dalam tubuh kita ada reseptor glutamate dan 50 persen sistem saraf bergantung pada zat ini, tapi hanya untuk jumlah tertentu. Itulah mengapa yang kita bicarakan disini adalah keseimbangan jumlahnya (dalam tubuh)," imbuhnya.
Meski belum ada dokter yang sepakat dengannya, Katherine juga mengaku berhasil mengujicobakan pola makan ini pada 74 dari 75 anak autis yang ia bantu lewat yayasan Unblind My Mind. Yayasan non-profit bentukan Katherine ini mempunyai concern khusus terhadap anak autis, dan ia berharap temuannya itu dapat mengubah cara pandang orang terhadap autisme.
(lil/vta)











































