"Saya sakit dari tahun 1982, didiagnosa sembuh tahun 1988. Dalam jangka waktu tersebut saya rutin berobat ke puskesmas," tutur Rubiyam kepada detikHealth, saat ditemui dalam acara jalan santai menyambut perayaan Hari Kusta Sedunia yang diadakan Kemenkes RI di kawasan Tugu Monas, Jakarta, Minggu (30/3/2014).
Berkaus jingga berjilbab ungu, Rubiyam tampak bersemangat mengikuti seluruh rangkaian acara tersebut. Tak nampak rasa minder pada dirinya meskipun beberapa bagian tubuh seperti jari tangan dan jari kakinya masih terlihat pernah terkena penyakit kusta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Waktu itu saya tinggal di daerah Jatinegara. Jadi awalnya ke puskesmas di Jatinegara, terus ke RS Sitanala. Bayar karcis Rp 150 setiap kali berobat," tuturnya.
Menikah dengan suami yang juga pernah terkena kusta, Rubiyam mengungkapkan bahwa kedua anaknya kini dalam kondisi sehat dan tak terkena penyakit kusta. Ini bisa menjadi pesan tersendiri untuk masyarakat bahwa kusta bukanlah penyakit 'kutukan' yang pasti menular.
"Dulu saya memang suka minder, sekarang nggak. Yang penting harus semangat dan jangan putus berobat. Kusta itu bisa disembuhkan kalau rajin berobat," pesan Rubiyam.
Di Indonesia penemuan penderita baru kusta antara tahun 2007 hingga 2010 memang mengalami penurunan. Namun di tahun 2011 terjadi peningkatan penemuan penderita baru menjadi 20.023 kasus. Pada tahun 2011 ada beberapa provinsi di Indonesia yang termasuk daerah dengan kasus kusta yang tinggi.
(ajg/vta)











































