Menurutnya, masalah di lehernya sudah muncul saat dirinya berusia dua tahun. Sayangnya, orang tuanya tidak punya cukup uang untuk membawanya berobat. Alhasil penyakit itu dibiarkan begitu saja.
"Sekarang leher tidak bisa digerakkan," kata Yunus kepada wartawan, dan ditulis pada Minggu (13/4/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa kali Yunus pernah mendapatkan perobatan di puskesmas dekat rumahnya. Tapi upaya pemulihan lebih lanjut kadangkala terhenti karena keterbatasan biaya.
Kemiskinan sudah lama membelit keluarga Yunus. Ayah Yunus meninggal saat dia masih kecil, sementara ibunya Darni Yusridawati (37) bekerja serabutan. Kadang sang ibu menjadi buruh bangunan, kadang ikut menggali sumur, kadang sebagai petugas cleaning service.
Dalam upaya membantu biaya rumah tangga dan juga mengumpulkan uang untuk berobat, Yunus dan abang kandungnya Khaidir Ali (12) bekerja menyemir sepatu. Yunus yang kini duduk di kelas dua Sekolah Dasar (SD) dan Khaidir Ali yang duduk di kelas lima, bekerja menyemir sepatu setiap sepulang sekolah.
Keduanya berkeliling ke warung-warung mencari pelanggan di sekitar Kecamatan Medan Polonia. Sekali menyemir dia mendapat upah Rp 2.000. Namun terkadang mereka diberi upah lebih oleh orang-orang yang kasihan.
Setiap hari keduanya bisa mengumpulkan Rp 20 ribu, namun sering pula kurang dari itu. Untuk mendapatkan uang lebih, keduanya memulung bekas gelas plastik air mineral kemasan, dan barang-barang bekas lainnya.
"Dikumpulkan untuk menambah uang," kata Yunus.
Sebelum dijual ke penampung, barang-barang bekas itu ditumpuk sementara di rumah mereka. Rumah yang terbuat dari kayu dan tepas itu luasnya sekitar 3 x 3 meter. Rumah itu mereka sewa dengan biaya Rp 200 ribu sebulan.
Yunus terlihat tabah dengan penyakit yang dideritanya. Hingga kini, dia masih berharap keajaiban bisa sembuh dengan mengoleskan minyak goreng ke lehernya. Sayangnya, hingga kini belum ada perubahan apapun yang dirasakan.
"Kalau sedang bekerja menyemir tidak begitu sakit, tapi kalau malam sakit," kata Yunus sembari memegang lehernya.
Dengan bekerja penyemir sepatu dan memulung barang bekas, Yunus berharap uang yang terkumpul dapat dipergunakan untuk mengobati penyakit yang dideritanya. Meskipun hingga saat ini uang yang dikumpulkan kerap kali terpakai saat keluarganya tidak memiliki uang untuk membeli makanan.
(rul/vit)











































