Terlahir dengan kondisi spina bifida, balita Petra Chieslon (2) kini hanya bisa terbaring lemah di rumah sakit. Infeksi yang menyerang saraf tulang belakangnya tersebut membuat perkembangan otot dan saraf kedua kakinya terhenti. Tak hanya itu, kelainan pada tulang ekor dan sarafnya menyebabkan aliran cairan otaknya terganggu dan menumpuk di kepala, kondisi yang dikenal dengan hidrosefalus.
"Petra lahir normal hanya memang saraf tulang belakang (tulang ekor) keluar. Umur tiga bulan kena infeksi, akhirnya jadi seperti ini," tutur Melisa membuka perbincangan dengan detikHealth, seperti ditulis Senin (19/5/2014).
Infeksi tersebut membuat saraf di kakinya menjadi melemah kemudian mati rasa. Perkembangan otot pun terganggu karena memang kaki anaknya tidak bisa digerakkan. Alhasil, Petra pun mengalami kelumpuhan.
Operasi pun dilakukan untuk menutup tulang yang melindungi saraf tulang belakang. Sayangnya, buah dari operasi tersebut adalah adanya penyumbatan pada aliran cairan selebro spinal (cairan dalam otak), sehingga kepala Petra membengkak di bagian belakang. Tak hanya itu, pembengkakan tersebut akhirnya membuat tengkorak kepalanya menjadi terbelah.
Berbagai macam operasi sudah dilakukan demi kesembuhan Petra. Namun karena kasusnya yang kompleks, proses penyembuhan pun seakan tidak mengalami kemajuan. Melisa mengatakan bahwa total 6 kali tindakan operasi sudah dilakukan kepada putranya itu.
Namun terbatasnya biaya membuat pengobatan Petra tersendat. Memang, Herianto sehari-harinya hanya mengajar les privat untuk beberapa anak SMP dan SMA. Tak hanya itu, ketersediaan dokter spesialis bedah saraf yang sangat sedikit membuat proses pengobatan berjalan lama.
"Di Pontianak itu dokter spesialis bedah sarafnya hanya satu, itu pun praktik di rumah sakit swasta sehingga mahal," ujar ibu dua anak tersebut.
Melisa dan Heri pun berinisiatif mengikuti program Jaminan Kesehatan Nasional yang diselenggerakan serentak se-Indonesia per 1 Januari lalu. Harapan mereka adalah terbantunya biaya pengobatan Petra sehingga tidak terlalu memberatkan. Namun apa daya, meski sudah terdaftar JKN, kurang lengkapnya fasilitas di RSUD dr Soedarso lagi-lagi menjadi sandungan. Alhasil, Petra pun dirujuk ke RS Cipto Mangunkusumo.
Terhitung sejak 29 April 2014 Petra dirawat di sana. Tindakan yang dilakukan dokter pertama kali adalah penambahan gizi dan nutrisi dengan cara memberikan susu dan makanan khusus untuk Petra. Jika sudah mencukupi, tindakan selanjutnya adalah operasi rekonstruksi tengkorak kepala Petra yang terbelah.
Sang ayah Herianto pun mengaku hanya bisa pasrah dan mengikuti petunjuk dokter untuk anaknya. Ia menuturkan bahwa selama tiga minggu berada di Jakarta, dirinya beserta istri dan putra sulung mereka tinggal menumpang di rumah salah satu kerabat jauh. Diakuinya bahwa dirinya memang belum juga memiliki kesibukan di ibukota, lantaran harus bergantian menunggui Petra di rumah sakit dengan istrinya.
"Saya nunggu dokternya saja. Baiknya gimana untuk anak saya. Selama masih ada sisa tabungan pasti akan saya usahakan kesembuhan untuk anak saya," ujar pria asal Kecamatan Sungai Pinyuh, Pontianak, Kalimantan Barat tersebut.
(up/up)











































