Sita Devi salah satunya. Wanita berumur 57 tahun itu bekerja untuk Aanganwadis, sebuah pusat perawatan kesehatan di India yang menyediakan layanan kesehatan dasar secara gratis, terutama untuk masyarakat yang kurang mampu.
Ia dan ratusan teman-temannya juga menjadi bagian dari Pulse Polio Initiative yang dimulai pemerintah sejak tahun 1995 dengan target memusnahkan polio dari muka bumi India. Berkat program tersebut pemerintah berhasil membagikan 12,1 miliar vaksin polio hingga dalam tiga tahun belakangan WHO menyatakan tak ada kasus polio baru di India.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Sita juga bertugas memberikan edukasi kepada keluarga tentang pentingnya vaksin polio itu sendiri bagi anak-anak mereka.
"Wanita-wanita ini terkadang harus mendatangi lebih dari 500 rumah dalam sehari. Motivasinya bukan uang. Mereka bekerja tanpa lelah karena komitmen mereka untuk menghilangkan polio," terang koordinator regional Aanganwadis, Rajesh Singh.
Apalagi kata Singh, masing-masing pekerja dari Aanganwadi hanya dibayar kurang dari 1 poundsterling (sekitar Rp 19.500) tiap kali berkunjung ke sebuah desa. Padahal gaji bulanan mereka juga hanya sebesar 40 poundsterling (sekitar Rp 777.000).
Namun Sita merasa harus turun tangan untuk membantu memusnahkan polio setelah melihat sendiri keponakannya tak bisa berjalan karena polio. Ketika pertama kali dinyatakan kena polio, Sita langsung menanyakan kondisi keponakannya itu ke fasilitas kesehatan setempat. Akan tetapi ia dibuat kecewa karena polio hanya bisa dicegah, bukan diobati.
"Lalu di tahun 1998, saya mendengar ada program (pemberantasan) polio (dari pemerintah). Saya langsung mendaftar karena saya melihat sendiri bagaimana penyakit ini menghancurkan keluarga kami," kisahnya seperti dikutip dari BBC, Kamis (29/5/2014).
Sita semakin menyesal melihat kondisi keponakannya karena India bukanlah negara yang ramah pada penyandang disabilitas, sehingga keponakannya tak dapat leluasa bepergian atau beraktivitas di luar rumah.
Lantas apa yang membuat program pemberantasan polio di India ini berhasil? Selain kegigihan para agen seperti Sita untuk blusukan ke desa-desa terpencil di India, ada karakter tertentu yang dimiliki Sita dan rekan-rekannya untuk menarik perhatian penduduk desa.
"Tingginya tingkat korupsi di India membuat orang sulit percaya pada agen pemerintah, tapi saya bersikeras menjelaskan bahwa program ini berbeda. Mereka pun mudah mempercayai saya karena kami berbagi masalah yang sama. Setelah mereka curhat, saya lalu menjelaskan bagaimana cara mereka melindungi anak-anaknya dari bahaya polio, yang nantinya bisa jadi beban tambahan bagi mereka," terangnya.
Tentu saja Sita juga kerap menemui keluarga yang tak berkenan anaknya diimunisasi. Namun dengan penuh kesabaran, Sita menjelaskan bahwa vaksin-vaksin yang ia bawa aman dari kontaminasi karena disimpan dalam kotak es.
Beruntung anak-anak desa terpencil di India menyukai 'bibi polio' mereka karena Sita dan rekan-rekannya sering memberi mereka permen atau cokelat setelah divaksin.
"Saya sering kecapekan berjalan kaki sampai 8-10 km di tengah panas untuk menemui mereka. Tapi saya akan terus melakukan ini selama saya masih diberi kesehatan," tekadnya sembari tersenyum.
(iva/up)











































