Sekarat dan Ikut Terapi Coba-coba, Malah Sembuh dari Kanker Langka

Sekarat dan Ikut Terapi Coba-coba, Malah Sembuh dari Kanker Langka

- detikHealth
Rabu, 04 Jun 2014 17:30 WIB
Sekarat dan Ikut Terapi Coba-coba, Malah Sembuh dari Kanker Langka
Aricca Wallace (Foto: AFP)
Maryland - Aricca Wallace bisa dibilang sudah hampir putus asa. Lebih dari tiga tahun lamanya, ia menderita kram dan pendarahan tak teratur di organ kemaluannya. Dokter kira itu hanyalah efek samping dari implan KB yang digunakan Aricca, yaitu IUD.

Tiap tahun Aricca pun rutin melakukan Pap smear, dan hasilnya selalu normal, sehingga tak ada yang curiga bila ia ternyata terserang kanker. Ibu dua anak ini akhirnya baru ketahuan kena kanker setelah IUD-nya diangkat.

Sayangnya ketika hal itu dilakukan, tumor yang dimiliki ibu berusia 34 tahun itu sudah mencapai stadium tiga dan menyebar hingga ke kelenjar getah bening yang ada di perut dan dadanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya diberitahu oleh dokter spesialis kalau kemo pun tak dapat membunuh tumor semacam ini. Dan mungkin saya akan mati setahun lagi," tutur Aricca seperti dikutip dari AFP, Rabu (4/6/2014). Ini artinya kanker serviks yang dialami Aricca bukan kanker biasa, atau tergolong langka.

Hingga akhirnya pada bulan Februari 2012, dokter merekomendasikan agar Aricca mengikuti percobaan imunoterapi yang digelar National Institutes of Health Clinical Center. Tak mau ambil pusing, Aricca pun mendaftarkan diri.

Tim dokter di pusat riset itu pun mengangkat tumor Aricca dan mengambil sampel sel imun yang mengelilingi tumor, lalu dari sel-sel imun ini dipilih sel-T khusus yang dapat menyerang HPV. Mengapa sel ini yang dipilih? Ini karena 70 persen kasus kanker serviks disebabkan oleh HPV, terutama tipe 16 dan 18.

Gagasannya, dengan berbekal sel-T tersebut, diharapkan tubuh Aricca dapat terlatih untuk meningkatkan respons kekebalannya terhadap HPV yang ada di dalam tumor.

Beruntung Aricca bisa bertahan di minggu pertama. Dalam seminggu ini ia menjalani kemoterapi dengan dosis tinggi untuk melumpuhkan sistem imunnya. Lalu ia diinfus agar 'sistem pertahanannya' dapat dibangun kembali dengan memanfaatkan lebih dari 100 miliar sel-T miliknya yang telah dikembangkan di lab untuk kemudian diarahkan agar dapat melawan tumor yang ada di tubuh Aricca.

Prosedur kedua, Aricca diberi dua dosis aldeusleukin yang membantu pertumbuhan sel-sel kekebalan. Masalahnya, terapi ini dapat menimbulkan efek samping serius misalkan pendarahan, muntah-muntah, tekanan darah rendah, retensi cairan, linglung, demam hingga infeksi.

"Itu adalah demam terburuk yang pernah saya alami," kenang Aricca.

Namun siapa sangka perjuangan pahit itu berbuah bahagia. Karena tumor Aricca terbukti makin mengecil. Bahkan hanya dalam empat bulan infusi, seluruh tumor di serviksnya hilang seketika.

Hal ini dibuktikan sendiri oleh Aricca. Pada bulan Mei kemarin, ia mengunjungi NHS Clinical Center sekali lagi untuk menjalani serangkaian scan. Dan benar saja, tak lagi ditemukan tanda-tanda kanker di tubuhnya atau tumornya tak kambuh lagi 22 bulan sejak terapi coba-cobanya dimulai.

Ini artinya prospek imunoterapi sebagai pengobatan kanker sangatlah cerah. Sayangnya, baru Aricca dan satu pasien lain dari 9 pasien kanker serviks yang ikut dalam percobaan ini dan merasakan manfaat dari imunoterapi. Pasien kedua juga dinyatakan bebas dari kanker selama satu tahun.

Pasien ketiga hanya merespons sebentar lalu kankernya kembali. Sedangkan enam pasien lainnya sama sekali tidak terbantu dengan prosedur ini.

"Hanya dengan 9 pasien (yang ikut percobaan), kami tak dapat mengatakan dengan pasti seberapa aktif prosedur ini. Tapi yang kami tahu, imunoterapi memang punya potensi," kata Dr Christian Hinrichs, Assistant Clinical Investigator dari National Cancer Institute.

Dr Hinrichs mengklaim sudah ada ratusan pasien kanker yang telah diobati dengan terapi ini, meski tingkat keberhasilannya sangat bervariasi. Dari data riset yang dilakukan di tahun 2013, tercatat 40 persen pasien melanoma metastatis yang menjalani imunoterapi tidak lagi memperlihatkan gejala kanker setelah tujuh tahun.

Akan tetapi Dr Hinrichs juga mengakui imunoterapi masih belum bisa dijadikan prosedur alternatif yang dapat diberikan kepada pasien kanker sewaktu-waktu. Salah satunya karena peneliti masih harus mencari tahu, mengapa prosedur ini efektif bagi sebagian pasien, dan mengapa tidak pada lainnya.

(iva/up)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads