'Terkunci dalam Tubuh', Gal Ciptakan Software Agar Tetap Bisa Ngobrol

'Terkunci dalam Tubuh', Gal Ciptakan Software Agar Tetap Bisa Ngobrol

- detikHealth
Rabu, 02 Jul 2014 07:00 WIB
Terkunci dalam Tubuh, Gal Ciptakan Software Agar Tetap Bisa Ngobrol
Click2Speak
Yerusalem -

Gal Sont sadar penyakit yang dideritanya lama-lama akan merenggut kemampuannya untuk bicara dan berjalan. Ia pun menciptakan software khusus agar tetap bisa berkomunikasi dengan keluarganya.

Di tahun 2009, Gal didiagnosis mengidap penyakit degeneratif bernama 'amyotrophic lateral sclerosis' (ALS). Yang terjadi adalah saraf di otak dan tulang belakang Gal makin lama makin sekarat, sehingga Gal kehilangan kendali atas seluruh tubuhnya, lumpuh sekaligus seperti terkunci dalam tubuhnya sendiri.

Kendati begitu, kondisi mental Gal sangatlah sehat. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah mengendalikan gerakan kedua bola matanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sadar bila dalam waktu dekat kemampuannya berkomunikasi akan hilang, pria berusia 38 tahun itu pun menciptakan sebuah software agar ia tetap bisa berbincang dengan istri dan kedua putrinya. Ia mengajak sahabatnya, Dan Russ untuk membuat software yang kemudian diberi nama 'Click2Speak'.

"Ketika pertama kali didiagnosis ALS, saya memutuskan untuk segera menemui pasien lain yang juga menderita gangguan serupa. Lalu saya sadar, mereka tidak memahami potensi teknologi yang bisa membantu mereka. Mereka pakai berbagai alat yang sangat mahal," tutur Gal seperti dikutip dari BBC, Rabu (2/7/2014).

Dari situlah Gal terdorong menciptakan software yang hanya perlu dikombinasikan dengan kamera untuk membantu penderita ALS atau difabel lainnya agar bisa berkomunikasi dengan mudah. "Kombinasi keduanya sangat murah. Yang tak kalah penting ini dapat diakses siapapun, tak hanya si kaya," imbuhnya.

Software Click2Speak berupa keyboard yang terpampang di layar namun dapat dikendalikan hanya dengan pergerakan mata. Untuk itu, software ini dilengkapi kamera khusus yang dapat melacak pergerakan mata penderita ALS atau difabel.

Namun keunggulan dari Click2Speak adalah Gal mengintegrasikan situsnya itu dengan aplikasi ponsel bernama SwiftKey. Selama ini aplikasi tersebut dikenal dapat membantu mempercepat pengguna ketika mengetik SMS setelah menganalisis berbagai kata yang kerap dipakai pengguna sehingga aplikasi ini dapat memprediksi kata-kata apa yang dipakai lagi oleh pengguna nantinya.

Gal juga menambahkan fitur lain yang disebut 'flow'. Dengan fitur ini, Gal tak perlu menekan tombol huruf satu-persatu ketika ingin mengutarakan sesuatu. Fitur ini dapat memprediksi kata apa yang ingin diketik hanya dari tatapan mata pengguna pada huruf-huruf tertentu. Menurut Gal, fitur-fitur ini membuatnya berkomunikasi 40 persen lebih cepat.

Gal dan Dan pun sepakat alat ini ingin mereka perkenalkan kepada orang-orang yang bernasib sama dengannya atau penderita difabel lainnya. "Bila Anda ingin alat komunikasi yang tak merepotkan banyak orang di sekitar Anda, alat ini sangatlah bagus. Saya hanya berharap orang-orang di luar sana mengetahui software kami ini dan merasakan manfaatnya, bahkan menghemat uang dan waktunya," tutupnya.

Terbukti sejak adanya Click2Speak, Gal tetap bisa bekerja dengan komputernya, termasuk browsing, menulis kode, mengirim email, chat dengan Skype, bahkan bermain video games. Sejak penyakitnya makin parah, Gal pun menggunakan Click2Speak sebagai alat komunikasi utamanya dengan keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

(lil/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads